Sabtu, 21 Juli 2018

Ingin Bahagia, Cobalah Beradaptasi di Segala Situasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu mertua dan menantu. shutterstock.com

    Ilustrasi ibu mertua dan menantu. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ayahku pernah bilang bahwa aku harus bisa beradaptasi di segala situasi. Ketika aku memikirkannya, saya tahu bahwa kalimat ayahku ini benar dan harus dilakukan dalam tiap langkah kita.

    Beradaptasi adalah ciri yang mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk hidup, setidaknya begitulah yang dipelajari di mata pelajaran IPA ketika di bangku sekolah bukan? Beradaptasi rupanya tidak hanya terbatas dalam hal fisik, namun juga jiwa dan pikiran. Betapa saya baru benar-benar menyadari pentingnya memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam kondisi apapun.

    Pernahkah kita mencari-cari arti kebahagiaan? Sebenarnya kebahagiaan itu sangat dekat dengan kita. Berbagai tumpukan buku motivasi mengenai kebahagiaan sudah dilahap habis namun masih ada saja yang belum merasa hidupnya bahagia. Ini sebenarnya bukan salah bukunya atau penulisnya, namun manusia itu sendiri yang tidak mempraktekkan “memancing kebahagiaan” setiap detiknya, Mengapa saya katakan “memancing”? Sebab pada dasarnya, saya meyakini bahwa bahagia itu dihasilkan oleh individu masing-masing.

    Kembali lagi ke konsep beradaptasi. Di dalam kondisi apapun, baik itu menghadapi orang maupun menghadapi masalah yang amat sangat berat, manusia selalu memiliki pilihan dalam hidupnya antara lain: mengeluh atau menerima dengan lapang dada

    Manusia yang tingkat adaptasinya sudah sangat expert tentunya hampir pasti memilih untuk menerima dengan lapang dada dan mengambil hal positif dari segala hal. Mengapa saya mengatakan yang ahli memilih pilihan kedua dan bukan mengeluh? Bukannya dalam beradaptasi manusia diberi kebebasan? Iya betul, tapi proses beradaptasi yang benarlah justru yang membuat manusia dapat bertahan hidup.

    Menerima dengan lapang dada dapat diartikan juga ikhlas dalam menerima sesuatu yang diberikan Tuhan (karena pada dasarnya memang Tuhan Maha Memberi, sekecil apapun itu). Lalu melihat sisi positif dalam setiap hal bagi saya merupakan wujud syukur kepada Tuhan sekaligus wujud berserah dirinya manusia kepada Sang Maha Mengatur. Hal ini karena, Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik pada umat-Nya, bahkan dalam sebuah musibah sekalipun.

    Pada akhirnya, jika dibuat analisis bagan maka kita akan menemukan bahwa kemampuan adaptasi yang benar akan berujung pada kebahagiaan. Kebahagiaan yang dipancing dengan kemampuan adaptasi kita.

    Oleh karena itu, alangkah baiknya jika setiap pribadi di muka bumi ini mengasah keterampilannya untuk beradaptasi dengan baik dan benar mengingat dunia kini semakin riuh dan mengeras.

    Tulisan ini sudah tayang di tgrevillea


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.