Rabu, 26 September 2018

Benarkah Piala Dunia 2018 Terburuk?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi penyerang Inggris, Harry Kane, setelah dikalahkan Kroasia dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, 12 Juli 2018. AP

    Ekspresi penyerang Inggris, Harry Kane, setelah dikalahkan Kroasia dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, 12 Juli 2018. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang teman mengatakan bahwa ini adalah Piala Dunia terburuk sepanjang yang ia tonton. Itu artinya, ini adalah ajang Piala Dunia terburuk sepanjang dua dasawarsa atau 20 tahun terakhir. Argumennya cukup kuat. Dari lima negara terkuat dalam ranking FIFA, hanya satu (Belgia) yang lolos ke semifinal. Jika diteruskan sampai 10 besar, hanya ada tambahan Prancis di semifinal. Itu baru dari sisi negara. Dari sisi pemain, semi final Piala Dunia 2018 ini hanya diikuti oleh satu dari 10 pemain terbaik (Eden Hazard).

    “Piala Dunia 2018 macam apa ini yang hanya diikuti oleh negara kelas dua dan pemain-pemain yang kurang mencorong,” kata dia beralasan. Menurutnya, ini adalah Piala Dunia KW. Kualitasnya  perlu diragukan. “Apa lagi yang perlu ditonton dari pemain-pemain yang tidak berada di papan atas itu?”

    Saya, tentu saja, membantah hal itu. Pertama, saya sejak dulu menyukai kejutan dan karenanya yang mencintai tim-tim underdog. Bukan sok anti-mainstream, tapi mengunggulkan tim-tim kuat itu kurang seru, tidak sering deg-degan dan sport jantung. Kalau kalah ngenes, kalau menang ya sudah sewajarnya. Kejutan dari tim kelas dua itu seperti petasan yang bikin kaget dan riang.

    Ada juga alasan lain. Saya menginginkan ada sesuatu yang baru. Menambah bintang di dada pemain Brasil itu tidak mengubah tatanan dan percaturan dunia sepakbola. Ya, status quo. Sebagai seorang Leo yang revolusioner, saya kurang menyukai status quo.

    Lalu bagaimana dengan alasan teman saya yang masuk akal itu?

    Kalau kita membaca statistik seperti dia membacanya, memang apa yang dia sampaikan masuk akal. Tapi, turnamen bola seperti Piala Dunia kan bukan rapor sekolah hasil akumulasi dari tugas-tugas harian dan mingguan sepanjang tahun. Turnamen adalah sebuah kompetisi dalam waktu tertentu. Siapa yang bisa memanfaatkan waktu singkat itu, dia yang akan berhasil.

    Piala Dunia itu mirip dengan ujian nasional untuk anak-anak SD-SMA. Ujian sesaat yang tidak bisa dipakai untuk mengukur prestasi dan performa secara general. Tidak adil, tentu saja (karena itu saya menentang UN sebagai standar kelulusan sekolah). Karena ada banyak faktor yang berpengaruh hingga hasil yang didapat bisa saja berbeda. Misalnya, pelatih. Nasib sial yang dialami oleh Argentina, tentu saja tidak akan terjadi jika mereka memiliki pelatih yang kepala botaknya punya lebih banyak ide dibanding sekadar mencak-mencak di pinggir lapangan.

    Untungnya, hidup tidak seperti Piala Dunia. Keberhasilan kita tidak ditentukan oleh sebuah kompetisi sesaat, tapi dari sebuah perjuangan terus menerus sepanjang waktu. Beda dengan sepakbola, kita tidak dinilai dari gol yang tercipta, tapi dari usaha yang kita lakukan.

    Artikel sudah tayang di Almuslim.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.