Wisata Jepang dan Korea, Mana yang Lebih Murah?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta cepat shinkansen bertemakan Hello Kitty saat diluncurkan di Stasiun JR Shin Osaka di Osaka, Jepang, 30 Juni 2018. Wisatawan yang menginginkan pernak-pernik eksklusif bertemakan Hello Kitty bisa mampir ke toko suvenir yang berada di Stasiun Hakata. Mandatory credit Kyodo/via REUTERS

    Kereta cepat shinkansen bertemakan Hello Kitty saat diluncurkan di Stasiun JR Shin Osaka di Osaka, Jepang, 30 Juni 2018. Wisatawan yang menginginkan pernak-pernik eksklusif bertemakan Hello Kitty bisa mampir ke toko suvenir yang berada di Stasiun Hakata. Mandatory credit Kyodo/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -

    Pengen ke Jepang deh, eh ke Korea juga pengen sih, bisa ngunjungin lokasi-lokasi syuting K-Drama,”

    “Kira-kira mending ke Jepang atau Korea ya?”

    “Eh kalau ke Korea habis berapa duit sih? Sama Jepang lebih murah mana?”

    “Gue pengen nabung ni buat jalan-jalan ke luar negeri, antara Jepang dan Korea, menurut lo mending ke mana?

    Saya sering sekali mendapat pertanyaan model begini -  antara wisata Jepang atau Korea -  tapi inti dari semua pertanyaan tersebut biasanya akan bermuara pada,  “lebih mahal mana Jepang atau Korea?”

    Berhubung saya adalah tipe semi backpacker, yang kebetulan sudah pernah mengunjungi ke dua negara tersebut, maka berikut penjelasan saya based on pengalaman pribadi (setiap orang mungkin akan berbeda penjelasan ya). Oke mari kita mulai dari hal yang paling awal, yaitu tiket pesawat. Tanpa tiket pesawat gak mungkin bisa sampai ke sana kan, masa iya mau pake pintu doraemon? J

    Tiket Pesawat 

    Terbang ke Jepang, untuk harga promo biasanya bisa dapat Rp 5– 6 juta PP tergantung maskapainya, sementara ke Korea bisa dapat sekitar  Rp 3,5– 4 jutaan. Waktu saya ke Jepang, dapat penerbangan Air Asia PP sekitar  Rp 5 jutaan, tepatnya berapa agak lupa. Sedangkan waktu ke Korea, dengan maskapai yang sama, saya dapat tiket pesawat sekitar Rp 3,9 juta sudah sama hotel semalam.  So, untuk tiket pesawat Korea lebih murah!

    Korea Pakai Visa, Jepang Gak

    Yup, asalkan paspor yang kita miliki sudah e-paspor, maka kita cukup datang ke Kedutaan Jepang, mengisi formulir, setelah itu formulir dan e-paspor diserahkan ke kedutaan. Tidak butuh waktu lama, kita akan mendapat izin masuk ke Jepang, melalui sebuah stiker putih yang disebut sebagai visa waiver, ditempel di paspor kita. Berlaku selama 3 tahun, dengan maksimal 15 hari kunjungan per kedatangan.

    Sementara untuk bisa masuk ke Korea, kita kudu bikin visa. Kebanyakan orang akan deg-degan ketika bikin visa ini, mulai dari berapa tabungan yang harus mengendap di rekening, hingga ketakutan lainnya yang menghantui ketika mengurus visa. Jangan sampai tiket sudah di tangan, tapi pengajuan visa ditolak. So untuk urusan kemudahan masuk, Jepang win!

    Makanan dan Harganya

    Baik di Jepang dan Korea menurut saya untuk ukuran harga kurang lebih aja sih. Kalau dirupiahin mulai dari Rp 60K sampai 85K sekali makan, tapi jangan khawatir, banyak cara untuk mengakali biaya makan yang cukup mahal ini. Saya yang cenderung sering lapar, biasanya mengakali dengan sarapan di tempat menginap, kadang roti yg disediakan saya bawa beberapa untuk bekal di jalan.

    Bisa juga dengan membeli nasi kepal atau Kimbap (korea), onigiri (Jepang) di minimart di sana sebagai bekal di jalan. Harganya kalau di Korea (rate saat itu) sekitar IDR 8500, sementara untuk harga di Jepang (rate saat itu) sekitar IDR 12K. Beli dua juga cukup sebagai bekal di jalan kalau tetiba lapar. So untuk yang ini baik Korea maupun Jepang imbang.

    Taste dan Jenis Makanan

    Untuk hal ini sepertinya makanan Jepang lebih familiar di lidah orang Indonesia, seperti katsu-katsuan, ramen, juga sushi. Bahkan kalau bingung mau makan apa bisa makan di Yoshinoya. Sementara di Korea, kalau mau aman sih makan bibimbap, itu loh makanan yang nasi dan sayur-sayurannya dicampur jadi satu, biasanya juga ada telurnya. Nasi campur ala Korea lah. 

    Selain itu biasanya kalau masuk ke restoran Korea kita akan disuguhkan side dish beraneka ragam. Side dishini kalau di Korea namanya Banchan, biasanya diantara side dish ini ada kimchi. Selain bibimbap juga bisa cobain Ramen ala korea disebutnya Ramyon, tapi hati-hati bagi yang muslim takutnya mengandung babi. Buat saya pribadi saya lebih suka rasa ramyon dibanding ramen. 

    Sebenarnya, makanan Korea ini juga mirip-mirip dengan Indonesia, hanya saja kurang familiar. Sebagai contoh Japchae Mujigae, ini mah kalau di kita bihun. Atau seperti yang sudah saya sebut di atas, bibimbap, kalau di kita mah nasi campur.  Contoh lainnya Chamchijeon, yaelah ini mah perkedel.

    Satu lagi deh saya kasih contoh Bindaettok, ini sih bakwan. Jadi buat yang mau ke Korea dan bingung bakal makan apa di sana atau takut rasanya kurang sesuai di lidah, coba aja pesen makanan yang saya sebut tadi. Soal rasa, ya emang Indonesia masih juaranya. So untuk soal taste dan jenis makanan menurut saya juga imbang. Keunggulan Jepang (menurut saya) hanya karena lebih familiar saja.

    Transportasi

    Ini penting ni untuk berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Pilihan transportasi umum yang biasa digunakan adalah subway atau bis. Tapi saya pribadi lebih banyak menggunakan subway, baik selama di Jepang atau di Korea. Untuk harga, saya akan bilang, Korea jauuuuuuuuhhhhh lebih murah harga trasportasi subwaynya. Seriusan kalau dihitung-hitung saya cuma habis sektar IDR 300K selama 7hari 6malam. Jalurnya juga mudah, yang perlu diperhatikan hanya pintu keluar dari stasiunnya harus di exit berapa, karena kalau salah keluar bisa jauh memutar ke tempat yang dituju.

    Cara membaca jalur subwaynya juga mudah. Sementara kalau di Jepang, jalur subwaynya ada banyak. Saya sendiri pernah nyasar pas coba jalan-jalan sendiri di Tokyo, tapi tenang gak usah khawatir kita bisa bertanya pada penduduk lokal dan mereka dengan senang hati membantu. 

    Sementara itu, untuk yang berencana mengunjungi beberapa kota, akan lebih hemat dengan membeli JR Pass, karena bisa dipakai naik shinkansen juga. Tapi saat itu saya gak beli JR pass, beli tiket harian aja. Saat itu kota yang saya kunjungi hanya Tokyo, Osaka (hanya transit sebelum ke Kyoto). Dari Tokyo ke Osaka saya naik pesawat, dengan maskapai Jet Star, dari Osaka ke Kyoto naik Shinkansen – masa udah jauh-jauh ke Jepang, ga nyobain naik Shinkansen, yekan. Harga dari Osaka ke Kyoto sekitar 1420 Yen, kalikan aja dengan kurs sekarang, sebaliknya pun harganya sama. Jadi untuk transportasi, Korea lebih murah.

    Penginapan

    Setelah sampai di Korea atau Jepang pastinya kita akan mencari penginapan, karena gak mungkin numpang tidur di masjid, yekan. Nah, untuk penginapan kalau yang berbudget pas-pasan macam saya, cari aja hostel. Harganya kisaran dari IDR 200K. Bisa cek di booking.com atau hostel.com, di Jepang juga kurang lebih sama, masih bisa dapat yang harga segituan. Rajin-rajin cari aja. So, soal penginapan Korea dan Jepang imbang lah ya.

    Belanja 

    Soal belanjaan, karena saya cewek dan familiar dengan kosmetik Korea yang kalau di Jakarta harganya mahal, maka datang langsung ke Korea jadi surga banget untuk belanja kosmetik. Tinggal datang ke MyeongDong, dan bisa belanja kosmetik murah-murah, bahkan masker-masker wajah juga banyak promonya, seperti beli satu gratis satu, dan masker-masker ini bisa dijadiin oleh-oleh.

    Untuk yang pengen belanja seperti baju, tshirt, aksesoris, syal atau coat, bisa coba ke Nandaemun Market. Bahkan sebenarnya saat kita berada di stasiun subway juga banyak para pedagang yang menjajakan barang dengan harga murah. Saya sempat beli coat seharga hanya IDR 130K, soal kualitas cukup baik, karena masih sering saya gunakan kalau lagi musim hujan di Jakarta. Sementara di Jepang saya gak banyak belanja. Pertama karena kurang familiar dengan merk nya plus harganya lumayan mahal. So untuk urusan belanjaan, Korea lah ya jawaranya.

    Jadi kalau ditanya murah mana, saya akan bilang Korea lebih murah. Tapi kalau ditanya lebih suka mana, saya akan jawab dua-duanya. Korea dan Jepang punya keunikannya masing-masing yang bikin pengen balik lagi dan lagi.

    Tulisan ini sudah tayang di Theindira


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.