Kamis, 16 Agustus 2018

Agar Terus Bahagia, Tularkan ke Orang Lain

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi seorang ibu yang tersenyum bahagia. shutterstock.com

    Ilustrasi seorang ibu yang tersenyum bahagia. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Bahagia itu wajib ditularkan. Kita bisa mulai penjelasannya dengan film yang saya tonton dan sangat menggugah batin saya, beberapa tahun lalu. Judulnya adalah Into the Wild.

    Into The Wild bercerita tentang seorang pemuda yang berasal dari keluarga bahagia dan berkecukupan yang bosan dengan kebahagiaan dan kenyamanan yang dia rasakan. Karena itu, setelah lulus dari kuliah, ia membuang ijazahnya dan pergi ke Alaska sendiri. Selama beberapa lama dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena bersatu dengan alam, terputus dari kenyamanan semu yang diciptakan oleh peradaban.

    Hingga suatu hari, dia ditemukan meninggal di dalam sebuah rongsokan bus. Kedinginan. Kelaparan. Sebuah buku diary ada di dekatnya, berisi perjalanannya di Alaska. Sebelum meninggal, dia menulis sebaris kalimat:

    “Happiness is real only when it shared.”

    Begitu kuatnya kutipan ini, hingga saya menaruhnya dalam profil di halaman Facebook saya.

    Kebahagiaan tidak bisa dirasakan sendiri. Kebahagiaan ada karena kita berbagi, karena kita hidup bersama. Sejumlah penelitian membuktikannya. “Anda mungkin berpikir suasana emosi Anda hanya tergantung pada pilihan, tindakan, dan pengalaman Anda sendiri,” kata Nicholas A. Christakis, sosiolog medis dari Harvard University yang terlibat dalam sebuah penelitian selama 20 tahun dan melibatkan 4.700 orang.

    “Tapi itu ternyata juga tergantung pada pilihan, tindakan, dan pengalaman orang lain, termasuk orang-orang yang secara langsung tidak Anda kenal. Kebahagiaan itu menular,” kata dia kepada The Washington Post.

    Demikian juga kebahagiaan hakiki yang dirasakan oleh para Nabi dan orang-orang baik (sholeh). Apa yang mereka rasakan tidak hanya berpengaruh pada diri mereka, tapi juga menular ke orang lain. Itulah mengapa di ayat terakhir surat Al-Fatihah ini Allah meminta kita untuk mengikuti “jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat”.

    Kita tahu, kenikmatan yang dimaksud di sini bukanlah kenikmatan fisik yang bisa dirasa oleh lima indera kita. Juga bukan kenikmatan semu yang dihasilkan oleh ego kita (seperti kenikmatan memiliki). Ini adalah kenikmatan spiritual, sebuah kebahagiaan tanpa syarat.

    Meniti jalan kebahagiaan yang telah dilalui oleh orang-orang yang merasakan kenikmatan dan kebahagiaan dari mendapatkan hidayah mau tak mau harus kita lakukan untuk ketularan kebahagiaan.

    Tulisan ini sudah tayang di Almuslim


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.