Donor Darah Ternyata Gak Gampang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • James Harrison, kakek usia 81 tahun,  setiap minggu mendonorkan darahnya yang unik karena mengandung antibodi selama 60 tahun dan telah  menyelamatkan 2,4 juta bayi di Australia [CNN]

    James Harrison, kakek usia 81 tahun, setiap minggu mendonorkan darahnya yang unik karena mengandung antibodi selama 60 tahun dan telah menyelamatkan 2,4 juta bayi di Australia [CNN]

    TEMPO.CO, Jakarta -Sudah pernah melakukan donor darah? Iya, ini memang kegiatan filantropi purba yang sudah kita lakukan dari dulu. Tapi ternyata, berdonor darah itu gak segampang yang kita bayangkan. Simak deh pengalaman saya ini.

    "Ayo, kalian pada mau roti, nggak? Ambil sendiri aja, ya." Tante Dina menyapa kami dengan ramah. Tentunya, tak hanya kami yang disapa, tapi juga semua pendonor yang ada di lantai dua di sebuah gerai perangkas rumah tangga di Cilegon. Selain sibuk menyapa kami, Tante Dina juga sibuk menyiapkan teh manis untuk para pendonor.
     
    "Nggak usah, Tante. Kami yang nggak donor nggak perlu dikasih roti. Biar kami nanti makan roti yang abis donor aja." Saya nyengir. 
     
    Sementara Eha, yang baru selesai donor darah menjeling sebal, roti yang sedang dikunyah dihentikannya. Dadanya dipegang, "Ya Allah, Kanazzz!! Roti ini sampai nggak ketelan. Kalian keterlaluan, saya yang donor, kalian yang menikmati makanannya.”
     
    Saya, tertawa terpingkal-pingkal.
     
    Sabtu, 28 Juli 2018 di sebuah perusahaan perangkas rumah tangga di Cilegon kembali mengadakan kegiatan donor darah. Kegiatan ini biasanya dilakukan setiap setahun sekali. Saya nggak pernah ikut, selain selalu berada di luar kota, kalau pun pas lagi di Cilegon, saya juga memang nggak bisa donor darah. Lah, kok bisa? Yah, bisa! Kan, donor darah juga ada syaratnya.
     
    Donor darah bulan lalu sekalian dijadikan ajang kumpul para bangke yang sudah lama nggak ketemu. Eh, lebih tepatnya saya, sih, yang jarang kumpul. Lah, gimana? Saya jarang pulang, kok! ^_^
     
    Awalnya, saya enggan untuk datang. Sejak pagi, kontak Haqi. Tapi sampai siang saya tak juga datang. Bahkan, nasi uduk pun saya kirim pakai go send.
     
    “Yang gue butuhin elunya datang. Bukan nasi uduknya!.” Karena Kak Magda sudah ngomel begitu, akhirnya saya tersinggung. Dan setelah zuhur, saya datang. Sudah ada Ijal di sana sementara Imam dan Haqi sudah pulang, karena hari sudah siang.
     
    Tak lama saya datang, muncullah Eha. Makhluk bumi berhati lembut yang ikhlas dibully siapa saja. Setelah Eha sampai dan belum duduk, dia dikomporin ikut donor. Eha ragu-ragu, karena belum pernah melakukan donor darah. Dengan takut-takut dan digeret langsung oleh Kak Magda, akhirnya Eha menuju meja pendaftaran. Gak lama Eha ngisi formulir, Fayruz datang dan sedang mengisi formulir juga. Akhirnya, mereka berdua menuju meja untuk dicek kesehatannya.
     
     
    Eha lulus syarat donor darah, sementara Fayruz gagal karena hb-nya rendah. Naik ke lantai dua, di mana prosesi pengambilan darah dilaksanakan, Eha terlihat nervous. Bahkan, ketika sudah berbaring di brangkar, Eha masih terlihat tak nyaman. Tapi, siapalah kami kawan-kawan yang nggak tahu diri ini tentu saja terang-terang meledek Eha. (kalau gini, saya nyadar bukan teman yang baik. Bahahahaha... tapi bangga)
     
     
    Muncul kemudian Isna, ketika Eha belum selesai diambil darahnya. Isna, nasibnya sama seperti saya. Nggak bisa donor darah. Jadilah yang menunggu Eha ada 5 orang. Tuh, setia kawan banget kan kita? ^_^
     
    Selesai Eha donor darah, saya mengambilkan teh manis yang sudah disiapkan oleh Tante Dina. Dilanjutkan ngobrol nggak jelas, tiba-tiba sampailah makhluk bumi satu lagi. Swa. Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih. Pendonor sudah mulai berkurang dan dengan percaya diri, Swa tentu saja hadir untuk turut serta mendonorkan darahnya. Terima kasih, kalian, yang sudah ikut mendonorkan darahnya. Bulan lalu, yang ikut mendaftar donor darah ada 200 orang. Tapi, tentunya tak semua bisa lolos seleksi. Karena yang bisa donor sekitar 140-an orang saja.
     
    Ngomong-ngomong, syarat donor darah apa aja, sih? Dulu, waktu kerja di Dompet Dhuafa, saya pernah nulis ini kayaknya.
     
    Usia, minimal 17 tahun. Berat badan minimal 45 kg (nah, ini saya sama Isna tidak memenuhi syarat). Tidur yang cukup, tidak minum obat minimal tiga hari sebelumnya, tekanan darah teratur, suhu badan juga normal. Frekuensi donor darah juga dibatasi, minimal 3 bulan sekali. Terus saya mikir, kira-kira, nunggu berapa tahun lagi biar berat badan saya 45 kg? Huffftttt....
     
     
     
    Tulisan ini sudah tayang di Anazkia
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.