Sabtu, 17 November 2018

Batasi Waktu Anak Terpaku di Layar Ponsel atau Televisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kecanduan gadget. shutterstock.com

    Ilustrasi kecanduan gadget. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak anak melihat ke layar monitor perangkat elektronik (screen time) sepanjang waktu, terutama ponsel dan televisi. Berapa banyak waktu yang dihabiskan anak di depan layar. Data dari ‘Pew Research Center’ mengatakan bahwa anak di depan layar dapat lebih dari 11 jam sehari. Semua penggunaan ponsel cerdas dan televisi oleh anak atau ‘screen time’ mungkin menggantikan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan lain, misalnya olahraga, belajar, bermain, mengobrol atau berbicara dengan teman, atau bahkan dengan keluarga.

    Padahal, para dokter spesialis anak di Amerika atau American Academy of Pediatrics (AAP) telah mengeluarkan pedoman penggunaan media sosial pada anak (New AAP Guideline: Kids and Media). Pedoman yang mengatur waktu anak menggunakan perangkat elektronik aplikasi dan televisi (screen time) tersebut dirilis pada 21 Oktober 2016, di National Conference & Exhibition AAP. Apa yang perlu dicermati?

    Terdapat banyak data yang baik bahwa cahaya yang dipancarkan layar, apalagi beberapa stimulasi dari aplikasi lainnya, berpotensi mengganggu tidur. Tidur yang berkualitas sangat penting untuk anak agar tumbuh berkembang, mengendalikan perilaku, dan belajar dengan baik. Salah satu hal yang perlu ditekankan orangtua adalah memastikan bahwa tidak boleh ada cahaya layar monitor di kamar tidur pada malam hari. Idealnya, monitor telah dimatikan 60 menit sebelum tidur, untuk memungkinkan otak anak  menyesuaikan diri dengan cahaya normal dan bersiap untuk tidur. Hindari kebiasaan anak  tidur dengan smartphone di bawah bantal atau di samping tempat tidur. Beberapa anak sering mendebat dengan alasan smartphone itu adalah jam alarm untuk membangunkan, tetapi sebaiknya orangtua menyiapkan  jam alarm yang bukan smartphone.

    Kegiatan anak seharusnya juga terkait dengan aktivitas fisik atau olahraga. Sebaiknya orangtua mengatur agar anak berada di luar ruang dan bergerak aktif di sekitar kamar, setidaknya 1 jam sehari. Selain itu, waktu di luar ruang dapat dimanfaatkan oleh keluarga dengan berbincang bersama dan berinteraksi satu sama lain. Demikian juga waktu makan, akan menjadi hal yang baik untuk kebersamaan, keluarga dapat berbicara satu sama lain di sekitar meja makan atau dalam perjalanan ke tempat olah raga. Orang tua serta anak perlu menonaktifkan smartphone (put down your phones), sehingga semua orang dapat berbicara satu sama lain dan terlibat interaksi di sekitar meja makan. 

    Beberapa rekomendasi AAP yang baru tampak sedikit lebih ketat daripada sebelumnya. Untuk anak di bawah usia 18 bulan, dengan pengecualian ‘live video chatting’ seperti Facetime atau Skype, tampaknya media sosial dapat mengganggu perkembangan bahasa atau hubungan interpersonal anak.

    Rekomendasi AAP yang sangat kuat berisi batasan penggunaan layar monitor untuk anak di bawah usia 18 bulan, kecuali hanya ‘real-time interface chatting’ dengan anggota keluarga. Selain itu, juga sangat disarankan pembatasan layar monitor di kamar tidur dan di ruang  makan. Data menunjukkan bahwa pengurangan lama waktu menonton TV dapat membantu mencegah kegemukan atau obesitas pada anak yang rentan.

     

    Di ruang praktik dokter, sering kali orangtua bertanya tentang aturan atau rekomendasi yang praktis. Dokter sebaiknya selalu memulai dengan mencari tahu apa saja kebutuhan keluarga. Dokter harus menganalisis seluruh lingkungan di sekitar anak, baik dalam rumah, sekolah, komunitas agama, bahkan juga kualitas udara dan air. Semua faktor ini berisiko menyebabkan perbedaan dalam derajad kesehatan anak. Setelah dokter mengenal karakter keluarga dan kebutuhannya, dokter selanjutnya memberi nasihat yang sederhana. Misalnya tentang anak yang bermain video game bertema kekerasan, dokter akan membimbing orangtua untuk melakukan berbagai hal yang lebih baik.

    Rekomendasi AAP mencakup beberapa aturan yang sangat standar. Sebagai contoh, ‘smartphone’ tidak boleh tergelatak di meja makan (phones do not come to the table), karena itu adalah waktu bagi anggota keluarga untuk berbincang. Pada saat anak tidur, alihkan menu ‘smartphone’ ke mode pesawat, tidak aktif atau bahkan dimatikan. Seharusnya tidak boleh ada perangkat elektronik yang hidup di kamar anak,  ketika anak akan mencoba untuk tidur. Sebaliknya, orangtua harus memiliki kesempatan untuk menonton apa yang anak lakukan dan mendampingi mereka saat tidak tidur. Jika anak memiliki kata kunci atau ‘password’, orangtua sebaiknya juga mengatahui password anak, dan dapat mengatakan setiap saat : ‘Biarkan kami melihat smartphonemu, dan melihat apa yang engkau lakukan.

    Dokter pada umumnya akan mendorong orang tua untuk benar-benar memahami apa yang anak lakukan secara online. Kepada orangtua, pada dasarnya anak suka mengajarkan hal baru dan menampilkan ketrampilannya, termasuk prestasi saat berburu Pokémon atau bagaimana menggunakan Snapchat, misalnya saat orangtua mengatakan, ‘Tunjukkan hal keren yang kamu dapat lakukan, nak.’ Sebagai orang tua, tidak perlu membangun dinding pembatas kesombongan, tetapi justru sebaiknya meminta anak menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan.

    Dengan demikian, anak akan membawa orangtua ke dalam dunia digital, yang merupakan tempat yang benar-benar sangat menarik bagi anak. Peran orangtua dalam mendapingi anak dalam periode ‘sreen time’ sangatlah penting.

    Sudahkah kita bertindak bijak?

     

    Tulisan ini sudah tayang di Dokterwikan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.