Lima Hal Ini Jangan Terlewatkan Saat Melancong ke Maladewa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan terumbu karang yang telah memutih karena stres di Maladewa. Para ilmuwan terus berlomba untuk mencegah wipeout pada terumbu karang dan ekosistem bawah laut. (The Ocean Agency/XL Catlin Seaview Survey via AP)

    Pemandangan terumbu karang yang telah memutih karena stres di Maladewa. Para ilmuwan terus berlomba untuk mencegah wipeout pada terumbu karang dan ekosistem bawah laut. (The Ocean Agency/XL Catlin Seaview Survey via AP)

    TEMPO.CO, Jakarta - Siapa yang menolak diajak ke Maladewa atau versi bahasa Inggrisnya, Maldives? Mendengar namanya saja sudah terbayang hamparan laut biru dan pasir putih yang indah. Lalu ribuan ikan, penyu dan manta berenang bebas. Woohoo!!! Siapa yang gak pengin liburan ke Maladewa?

    Beberapa tahun lalu saya membaca artikel yang mengatakan Maladewa akan tenggelam karena global warming. Ada yang bilang dalam 100 tahun, atau 80 tahun, bahkan yang pesimis bahwa dalam 30-an tahun pulau-pulau di Maladewa akan tenggelam.

    Misalnya ini:

    The Maldives, with over 1,190 coral islands, none of the islands have mountains or rivers, and the islands are merely two meters above sea level, making them the world’s lowest country in elevation. In 2004, a tsunami swallowed two-thirds of the country. As a result, over 20 islands were permanently erased from the map.

    ADVERTISEMENT

    Nah! Sejak saat itu saya bertekad harus ke Maladewa sebelum pulau-pulaunya tenggelam. ALHAMDULILLAH, terima kasih ya Tuhan penguasa semesta alam, akhirnya kesampaian juga wish list saya yang satu ini! AND MALDIVES WAS TRULY AMAZING!

    5 Hal Penting Kalau Ke Maldives

    13 Komentar

    Maldives. Mendengar namanya saja sudah terbayang hamparan laut biru dan pasir putih yang indah. Lalu ribuan ikan, penyu dan manta berenang bebas. Woohoo!!! Siapa yang nggak pengin liburan ke Maldives?

    Beberapa tahun lalu saya membaca artikel yang mengatakan Kepulauan Maldives akan tenggelam karena global warming. Ada yang bilang dalam 100 tahun, atau 80 tahun, bahkan yang pesimis bilang dalam 30-an tahun beberapa pulau di Maldives akan tenggelam. Misalnya ini:

    The Maldives, with over 1,190 coral islands, none of the islands have mountains or rivers, and the islands are merely two meters above sea level, making them the world’s lowest country in elevation. In 2004, a tsunami swallowed two-thirds of the country. As a result, over 20 islands were permanently erased from the map.

    Nah! Sejak saat itu saya bertekad harus ke Maldives sebelum pulau-pulaunya tenggelam. ALHAMDULILLAH, terima kasih ya Tuhan penguasa semesta alam, akhirnya kesampaian juga wish list saya yang satu ini! AND MALDIVES WAS TRULY AMAZING!

    Naik Apa ke Maladewa?

    Kami naik Singapore airlines Jakarta-Male (ibu kota Maldives) transit sebentar di Changi. Pada saat beli tiket di awal Juni 2018, penerbangan yang tersedia dari Jakarta adalah Singapore airlines (berangkat jam 14.00) dan Air Asia (berangkat pagi, transit di KL). Durasi flight Singapore-Male sekitar lima jam, dan tidak terasa karena saya tidur di pesawat. Sampai di Male sudah jam 22.00 waktu setempat.

    Keluar dari bandara, oleh mas penjemput, kami langsung digiring keluar bandara…. menuju ke pelabuhan! Iya, begitu keluar dari bandara langsung ketemu pelabuhan kecil.  Loh jadi turun pesawat kita langsung naik ferry lagi.

    Ternyata Male terletak di pulau yang berbeda dengan bandaranya. Bandara internasional Maladewa dibangun di atas sebuah pulau khusus untuk bandara itu saja. Jadi dari bandara kemana-mana memang harus naik ferry atau sea plane.

    Tentang Male, Ibu Kota Maladewa

    Kami turun dari ferry langsung ketemu trotoar jalanan kota Male dan nyetop taksi buat ke Somerset hotel. Rencana saya menginap semalam di hotel terus besok pagi jalan kaki lihat-lihat kota Male. Asik kan?

    Di mata saya Male tampak seperti kota kabupaten. Hehehehe… Kotanya kecil, dengan jalan-jalan yang sempit hanya muat satu mobil. Kalau mau nyetir di Male HARUS JAGO BANGET nyelip di gang-gang sempit… asliiii… banyak jalan yang cuma muat 1 mobil sedan, terus kanan-kirinya tembok atau toko orang!! Nggak bisa papasan, bahkan sama motor aja nggak bisa… Hahahaha… kalau saya nyetir di Male udah keringetan sih.

    Nggak ada mal di Male. Saya tanya ke supir taksi, “Kalau mau belanja, shopping mall terbesar dimana?” Lalu dia menunjukkan supermarket yang kira-kira setara sama Alfa Midi kalau di Jakarta. Udah. Segitu aja ‘mall’-nya. 

    Sayangnya kami sampai di Male sudah malam, gak banyak melihat kehidupan warga. Padahal saya ingin berkunjung ke Masjid Jami yang ketika kami lewati udah sepi dan gelap. Maladewa ini hampir semua warganya Muslim. Malah hingga 1997 Islam adalah agama wajib di Maldives. Baru setelah ramai banyak resort, maka banyak pekerja asing non-Muslim yang kemudian menetap di Maladewa sehingga warganya makin beragam.

    Perlu Visa?

    Untungnya tidak. Pemegang paspor Indonesia bisa langsung cuss ke Maldives. Counter imigrasi di bandara Maladewa bekerja cepat. Bahkan boleh maju ke meja imigrasi berdua dan paspor akan distempel berbarengan, lalu dikasih izin berkunjung selama 30 hari di Maldives. Sayangnya saya cuma punya waktu 5 hari saja. Pengin juga sih 30 hari… tapi ntar gak kerja?

    Hurawalhi Resort

    Maldives adalah negara kepulauan dengan pulau kecil-kecil yang disiapkan khusus untuk resort. Biasanya di atas satu pulau hanya boleh dibangun satu buah resort. Jadi pilihan resortnya banyak banget. Setelah browsing, akhirnya pilihan jatuh ke Hurawalhi resort karena mereka punya restoran under water! How cool is that?

    Hurawalhi resort terletak di sebuah pulau tersendiri di utara Male. Cukup jauh, sekitar 50 menit naik sea plane dari bandara Male. Di Hurawalhi kamarnya ada pilihan beach villa (di pantai) atau water villa (di atas laut). Tentu pilih water villa dong… biar bangun tidur bisa langsung nyebur ke laut! Bisa denger suara ombak di bawa kasur setiap saat. Nggak, saya nggak bawa drone. Ini foto dari website Hurawalhi Resort. 

    Jadi Kapan Hari Baik ke Maladewa?

    Kata orang-orang waktu terbaik ke Maldives adalah dari bulan November hingga April karena bukan musim hujan dan arus laut lebih tenang. Namun hal ini juga berarti high season dan harga hotel lebih mahal. Ehm!

    Saya pergi untuk mengisi libur lebaran, jadi memang baru bisa tanggal 18-22 Juni (Senin-Jumat). Yes, di Maladewa Juni udah masuk musim hujan, dan ini artinya low season, resort tidak ramai dan harga sedikit miring, tapi jujur aja saya sempat kuatir, duh.. gimana ya liburan ke pantai kok pas musim hujan.

    Ternyata TIDAK PERLU KUATIR karena hujan di Maldives sebentar banget! Paling hujan selama 30 menit terus reda dan langit cerah kembali! Nggak seperti Jakarta yang bisa hujan seharian dan langit mendung terus. Hahahaha…. Selama 5 hari itu sempat 2x hujan, dan cuma sebentar banget.

    Hotel?

    Image liburan ke Maldives kan mahal yaaa… ini karena dahulu hanya tersedia resort-resort berbintang untuk menginap. Tapi beberapa tahun terakhir Maladewa sudah membuka diri untuk traveler yang budgetnya lebih hemat, dan bisa menginap di guest house di pulau-pulau yang berpenduduk (bukan pulau khusus resort).

    Jadi ada pilihan mau tinggal di resort dengan fasilitas lengkap, keren dan manja seharga 1000-an USD, atau di guest houses yang menyatu dengan pulau penduduk dengan harga sekitar 60-100 USD. Bedanya tentu kalau guest house cuma bed and breakfast, masih nambah biaya untuk makan, transport, sewa boat kalau mau snorkeling atau island hopping, guide di laut dan nggak ada activity buat kita.

    Kalau di resort semua sudah tersedia, termasuk 3x makan, free flow cocktail 24 jam (terserah mau minum apa, mau nambah berapa kali, dibikinin!), live music, transportasi untuk island hopping, termasuk beragam activities seperti guided snorkeling di sekitar resort, snorkeling di laut lihat pasukan manta ray, naik kapal lihat lumba-lumba, kayaking dan aduh banyak banget kegiatan lainnya!

    Bagaimana Makanannya?

    Kalau kamu perlu makanan halal, gampang banget di Maldives! Hahahaha… iya lah, hampir seluruh warganya Muslim, jadi resto di Male ya menyajikan makanan halal. Bahkan di meja buffet di resort pun mayoritas makanannya halal. Kalau ada yang tidak halal maka pada hidangan itu akan diberi tulisan dengan jelas ‘Non-halal’. Itupun saya hitung dari puluhan macam hidangan di enam meja buffet tiap makan pagi-siang-malam, hanya ada 3 yang berlabel non-halal. Banyakan yang halah guys!

    Maldivian food bagi saya mirip banget sama makanan India. Nasi atau roti, disajikan dengan lauk ikan atau ayam atau daging sapi/domba dengan bumbu dan kuah kari. Nah, waktu mencoba macam-macam makanan khas Maldives, ada satu snack yang saya suka banget!

    Soal Uang?

    Sebaiknya siapkan USD dan tukar ke uang Rufiyaa setibanya di Male. Iya, nama mata uangnya: RUFIYAA. Namanya mirip sama rupiah! :)) Tapi nilainya gak mirip. Jauh lebih kuat Rufiyaa dari pada Rupiah. Nilai 1 USD=15 Rufiyaa. Bandingkan dengan 1 USD=13.500 rupiah. Jauh ya?

    Kalau kita tinggal di resort tentu mereka dengan senang hati menerima credit card jadi nggak perlu pusing menukar uang. Semuanya (sejak jemputan dari bandara sampai diantar lagi ke bandara pulangnya) bisa kita bayar pakai credit card. Tapi kalau menginap di guesthouse tentu sebaiknya bawa cash yang banyak. Susah cari mesin ATM di tengah pulau.

    Di Maladewa, Apa yang Bisa Dilakukan?

    Nah ini dia… lima hari di Hurawalhi resort rasanya gak cukup. Hari pertama setelah perjalanan panjang dari Jakarta-Singapore-Male-Hurawalhi dan gonta-ganti pesawat-ferry-sea plane-ferry lagi, akhir saya lebih banyak bengong di teras kamar sambil liat laut yang cakep banget. Hahaha… kayak masih ‘WOW’ gitu saking terpesonanya. Apa lagi di bawah teras kamar suka tiba-tiba lewat gerombolan ikan, bayi hiu atau penyu. GEMES KAN!!!

    Malamnya dinner di 5.8 Undersea Restaurant. Beneran 5.8 feet di bawah laut restorannya! Saya takjub!!!

    Tadinya saya heran pas dikasih tau oleh Elena, nona Rusia cantik yang menjadi host kami di Hurawalhi, kalau diharapkan tiba di restoran jam 5:00 untuk dinner. Hah? Dinner atau makan sore ini, ya kan? Saya baru ngerti setelah terpesona memandang ikan-ikan yang berenang di atas kepala dari dalam restoran bawah laut ini…. kami disuruh datang sore biar masih ada cahaya matahari dan bisa lihat sunset dari bawah laut… HOW AWESOME!!!!

    Pas kami dinner ini bertepatan dengan ulang tahunnya Cik Randy. Terus tibat-tiba ada diver membawa tulisan Happy Birthday menyelam di atas dan samping kami. Uwuwuwuwu… gemes!!

    Tulisan ini sudah tayang di Lifetimejourney


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji