Pengalaman Bersepeda Motor dari Labuan Baju ke Waerebo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tujuh bangunan rumah desa adat Waerebo yang disebut Mbaru Niang, 28 April 2017. Desa adat Waerebo berada di lembah yang diapit beberapa punggungan, membuat wisatawan untuk mencapai desa itu harus mendaki membelah hutan sejauh 7 km selama kurang lebih 4 jam. ANTARA FOTO

    Tujuh bangunan rumah desa adat Waerebo yang disebut Mbaru Niang, 28 April 2017. Desa adat Waerebo berada di lembah yang diapit beberapa punggungan, membuat wisatawan untuk mencapai desa itu harus mendaki membelah hutan sejauh 7 km selama kurang lebih 4 jam. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Tujuh rumah utama di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur atau dikenal dengan Waerebo terlalu memikat untuk dilewatkan. Makanya, ketika saya berkesempatan pergi ke Labuan Bajo, saya berniat banget memasukkan Waerebo ke dalam list perjalanan kali ini.

    Namun banyak keraguan yang muncul. Seperti takut waktunya mepet dan malah kita gak jadi sailing, takut budgetnya over, perjalanan yang jauh dan sebagainya.

    Percayakah kalian bahkan saat kami sudah tiba di Labuan Bajo pun kami masih ragu untuk berangkat ke sana? Kami tiba di Labuan Bajo pada Sabtu, 15 September 2018 pada sore hari. Kami kelelahan karena berangkat ke Labuan Bajo melalui jalur laut yang memakan waktu 28 jam. Terbayangkan bagaimana kami sudah cukup mabok laut? Banyaknya tawaran untuk sailing sempat membuat travel-mate saya ragu.
     
    Oh ya, let me tell you kalau perjalanan saya kali ini ditemani oleh Rafikaulia. Namun dengan mantap saya meyakinkan "Besok kita ke Waerebo. Kita cari rental motor sekarang." dan malam itu pula langsung mencari rental motor. Kebetulan kami dapat kenalan di hostel yang memberikan biaya rental Rp 150.000 untuk 2 hari. Motornya beat dan masih baru.
     
    Kami sepakat untuk berangkat esok pagi, jam 7. Ah iya, sedikit saran dari saya. Kalau kalian rental motor, tolong diperhatikan dengan jelas apakah motor tersebut sudah layak, cek ban motor, lampu motor, lampu sein, klakson dan sebagainya. Ini demi kenyamanan berkendara. Karena perjalanan Labuan Bajo ke Waerebo lewat jalur Ruteng sangatlah sepi dan ada bagian jalan yang sangat jelek. Penuh dengan batu krikil dan licin serta berkelok. Jadi harus mempersiapkan dengan matang ya.
     
    Untuk pom bensin, kami hanya menemukan 2 SPBU, di dekat Pasar Baru (masih sekitar Labuan Bajo) dan di pertengahan jalan. Harga bensin di SPBU Rp 7.800/liter dan ecer Rp 15.000/liter.
     
    Pagi itu, kami langsung berangkat dan bernyanyi. Kami berkendara dengan santai. Kebetulan saya yang mengendarai motor tersebut karena saya lebih takut dibonceng sebenarnya. Setelah berkendara selama kurang lebih satu jam karena perut sudah kelaparan. Akhirnya kami makan dengan view yang mahal. Kami membeli nasi malam kemarin dan abon untuk lauk, sungguh sederhana namun bahagia.
     
     
     
    Berkisar 4 jam berkendara akhirnya tangan saya kram. Dia menawarkan diri untuk bergantian, walaupun saya agak ragu dibonceng. Saya takut kita sampai terlalu sore. Akhirnya saya iyakan dan kami bergantian berkendara. Selama berkendara, pemandangan yang saya hadapi itu lautan, sawah, hutan, dan itu sangat indah. Allahu Akbar, sungguh indah..
     
    Usai istirahat sejenak, kami sampai di Desa Denge atau desa terakhir sebelum menuju ke Pos  1. Warga lokal sempat memanggil kami. Kami harus memakai porter untuk trekking agar lebih aman karena akan melewati hutan.
     
    Namanya pak Kristo, ia mengajak kami makan siang sebelum ke Waerebo. Jam menunjukkan pukul 1 kurang, dan memang perut sudah minta diisi. Akhirnya kami makan dengan sederhana, yaitu sayur labu dan telur dadar. Nikmat sekali ternyata kesederhanaan ini. Pak Kristo menawarkan kami untuk berkeliling Labuan Bajo esok harinya, dan ia tidak meminta uang sama sekali. Bahkan untuk makan siang ini, ia tidak meminta imbalan apapun.
     
    Sungguh, saya jatuh cinta dengan keramahtamahan orang Nusa Tenggara Timur ini. Pak Kristo memperkenalkan kami dengan Pak John selaku porter yang akan menemani kami selama 2 hari 1 malam di Waerebo serta akan membawakan barang selama trekking.
     
    Sampai lah kami di Pos 1, yang ditandai dengan banyaknya motor yang parkir. Tenang saja, motor akan aman terkendali. Dan itu tandanya kami harus mulai trekking. Untuk perjalanan selama trekking dan bermalam di Waerebo akan saya posting di artikel selanjutnya ya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang ingin menuju ke Waerebo dari Labuan Bajo dengan mengendarai motor.
     
    Tulisan ini sudah tayang di Mardiaheyyy

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji