Karnaval Wayang di Tugu Yogyakarta, Keren Banget

Dua orang siswi belajar memainkan wayang kulit di Jakarta Intercultural School (JIS) Elementary, Jakarta, 2 November 2017. Para siswa belajar mengenal wayang dan musik gamelan untuk menyambut hari wayang sedunia. Tempo/Ilham Fikri

TEMPO.CO, Jakarta -Saya agak lupa persisnya menonton wayang untuk pertama kalinya.Yang saya ingat, waktu itu siaran televisi hanya TVRI, dan wayang dijadikan hiburan pada malam hari, beberapa saat setelah acara Dunia dalam Berita berakhir.

Sebagai perempuan asli Sumatera, pertunjukan wayang yang lambat dan bertele-tele tidak menarik perhatian saya. Terbiasa dengan musik dengan tempo cepat, tarian yang bersemangat, dan suara yang menggelegar, pertunjukan wayang sukses membuat saya mengantuk sebelum waktunya.

Semakin bertambah tua, semakin banyak bertemu beragam jenis manusia, preferensi hiburan yang bisa saya nikmati semakin banyak. Saya bahagia melihat tarian klasik dengan tempo super lambat di pelataran keraton, senang mendengar suara-suara memekik dari kumpulan laki-laki yang menarikan kecak, juga mencintai jaipong-tarian yang dianggap menjual erotisme.

Semakin bertambah tua, menjajal aneka rupa, saya tau setiap tarian/pertunjukan punya usahanya masing-masing untuk dipertontonkan. Satu waktu, saat menetap di Yogyakarta, saya mencoba  belajar tari klasik. Sekian kali “mendak” (bentuk dasar kaki yang paling dominan, yaitu posisi lutut kaki ditekuk merendah) dalam satu putaran tarian mampu membuat paha, betis, dan telapak kaki saya gemetar gentar.

Kembali soal wayang, tahukah kamu kalau wayang sudah masuk ke Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO (UNESCO Intangible Cultural Heritage Lists). Dalam daftar UNESCO itu, selain wayang, dari Indonesia terdaftar pula Keris, Batik, Angklung, Tari Saman, dan Noken.

Wayang terkenal dengan gerakan dan gaya musik yang rumit. Cerita kuno yang berpusat di Pulau Jawa ini berkembang mulai dari istana kerajaan di Jawa dan Bali, hingga serta di daerah pedesaan.

Cerita Wayang meminjam karakter dari mitos asli, epos dan pahlawan India dari kisah-kisah Persia. Dalang  menguasai perbendaharaan cerita yang sangat banyak, dan mampu melafalkan bagian-bagian narasi kuno yang puitis untuk mengugah minat penontonnya. Selain menceritakan kisah klasik, wayang juga kerap digunakan sebagai media kritik sosial.

Jenis-jenis wayang sendiri berdasarkan medianya ada banyak. Lima jenis yang cukup banyak dikenal yaitu Wayang Beber (berbentuk lembaran gambar-gambar yang melukiskan adegan-adegan), Wayang Kulit (berbentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing), Wayang Klitik/Karucil (pipih, mirip dengan wayang kulit, namun terbuat dari kayu, bukan kulit), Wayang Golek (menggunakan wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu), dan Wayang Wong/Orang (drama tari yang menggunakan manusia untuk memerankan tokoh-tokohnya).

Pada perayaan puncak Ulang Tahun Kota Yogyakarta ke-262, 7 Oktober 2018 lalu, ribuan manusia tumpah ruah mulai dari Jembatan Gondolayu, Tugu Paal Putih, dan berakhir di Jalan Margo Utomo. Seperti saya, ribuan warga ini bertekad untuk melihat langsung kirab wayang yang dibawakan langsung oleh 1400 peserta dari 14 kecamatan di provinsi Yogyakarta.

Pertunjukan baru mulai pukul 7 malam, tetapi dari siang panitia sudah mulai beres-beres. Pembatas jalan mulai dipasang, alur lalu lintas mulai diatur. Banyak warga yang rela duduk melantai di pinggir jalan, beralaskan paving block, berpayung terik mentari, menanti pagelaran yang hanya muncul satu tahun sekali ini.

Sebelum acara dimulai, saya dan beberapa teman menyempatkan datang ke lokasi persiapan peserta. Gelap masih jauh, tapi mereka sudah siap dengan hiasan wajah dan kostum lengkap. Saya melihat banyak senyum, banyak bangga, dan banyak telepon peserta yang diacungkan tinggi-tinggi untuk mengabadikan momen spesial ini. Saya, yang menonton saja, bahagia sekali. Apalagi mereka, yang jadi bagian dari sejarah.

Setiap kecamatan yang berpartisipasi akan menampilkan lakon wayang yang berbeda. Dari Kecamatan Kotagede ada Rama – Shinta, Kecamatan Danurejan membawa serta Srikandi, Ngampilan membawa Bhisma, Gondokusuman membawa Kunti, Mantrijeron membawa Sugriwo-Subali-Anjani, dan Gondokusuman membawa serta Kresna.

Dari Kecamatan Pakualaman ada Narasoma, dari Wirobrajan ada Suwida, dari Kraton ada Larasati, Gedongtengen menarikan Palguna – Palgunadi, Mergangsan membawa Kumbokarno, Umbulharjo menampilkan Anoman, dan Jetis membawa Togog-Semar Bathara Guru.

Gelap yang turun dari langit semacam aba-aba bagi seluruh warga yang memadati area karnaval. Saya, yang saat itu berprofesi sebagai turis, cukup takjub melihat puluhan ribu warga yang tenang. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada jerit-jeritan. Semua manut, ikut aturan. Meskipun luar biasa ramai, tapi suasana tetap damai.

Acara Wayang Jogja Night Carnival resmi dibuka dengan suara gong yang dibunyikan oleh Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Izin dari sultan menjadi kode pada iringan karnaval, penari flash mob, dan warga untuk ikut menyerukan sorak-sorai kegembiraan.

Terima kasih untuk semua yang membuat acara ini berlangsung baik, lancar, dan aman. Termasuk untuk bapak-bapak petugas kebersihan yang usai acara masih harus bekerja keras membuat Jogja tetap nyaman dinikmati. Buat saya, Jogja masih, dan tetap istimewa.

Tulisan ini sudah tayang di Atemalem






Aksi Dalang hingga Karnaval HUT Yogyakarta ke-266 Sedot Antusiasme Wisatawan

6 jam lalu

Aksi Dalang hingga Karnaval HUT Yogyakarta ke-266 Sedot Antusiasme Wisatawan

Sejumlah gelaran peringatan HUT ke 266 Kota Yogyakarta yang digelar sejak awal Oktober dan masih berlangsung hingga saat ini dipadati kunjungan wisatawan.


Mentan Ajak Gubernur DIY Perkuat Sektor Pertanian

1 hari lalu

Mentan Ajak Gubernur DIY Perkuat Sektor Pertanian

Yogyakarta adalah daerah istimewa yang diharapkan mampu mengembangkan pertanian Indonesia menjadi lebih maju dan modern.


Catat Tanggalnya, Jogja National Museum dan Titik Nol Yogyakarta Akan Bermandikan Seni Cahaya

1 hari lalu

Catat Tanggalnya, Jogja National Museum dan Titik Nol Yogyakarta Akan Bermandikan Seni Cahaya

Kawasan Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta atau ujung Jalan Malioboro bakal digempur rentetan atraksi seni cahaya.


ITB Perkenalkan CreateView Smart Classroom Sumbangan UNESCO

1 hari lalu

ITB Perkenalkan CreateView Smart Classroom Sumbangan UNESCO

Ruang kelas serupa juga sudah disiapkan oleh ITB tapi diaku kalah lengkap dan luas.


Puncak HUT Kota Yogyakarta ke-266, Ratusan Seniman Akan Meriahkan Karnaval Wayang

2 hari lalu

Puncak HUT Kota Yogyakarta ke-266, Ratusan Seniman Akan Meriahkan Karnaval Wayang

Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #7 jadi puncak acara HUT ke-266 Kota Yogyakarta pada 7 Oktober 2022.


Sejarah Hari Guru Sedunia yang Diperingati Setiap 5 Oktober

2 hari lalu

Sejarah Hari Guru Sedunia yang Diperingati Setiap 5 Oktober

Setiap 5 Oktober, diperingati sebagai hari Hari Guru Sedunia sejak tahun 1994. Bagaimana sejarahnya?


Sambangi Kustomfest 2022, Sandiaga Uno Bilang Begini

3 hari lalu

Sambangi Kustomfest 2022, Sandiaga Uno Bilang Begini

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno membuka pameran modifikasi motor Kustomfest 2022 di JEC, Yogya, pada Sabtu 1 Oktober 2022.


Rangkaian Acara Muhammadiyah Expo di Yogyakarta, Dari Pengajian Hingga Bazar

5 hari lalu

Rangkaian Acara Muhammadiyah Expo di Yogyakarta, Dari Pengajian Hingga Bazar

Muhammadiyah Jogja Expo 2022 ini juga difokuskan sebagai syiar Muktamar sekaligus ajang silaturahmi.


Kolonel Sugiyono Korban G30S, 21 Hari Kemudian Jasadnya Ditemukan

5 hari lalu

Kolonel Sugiyono Korban G30S, 21 Hari Kemudian Jasadnya Ditemukan

Peristiwa kelam G30S tidak hanya merenggut nyawa perwira TNI AD di Jakarta, dua lainnya di Yogyakarta yaitu Koloner Sugiyono dan Brigjen Katamso.


Kustomfest 2022, Wisatawan Bisa Lihat Balap Motor dan Dapat Hadiah Motor Listrik Modifikasi

6 hari lalu

Kustomfest 2022, Wisatawan Bisa Lihat Balap Motor dan Dapat Hadiah Motor Listrik Modifikasi

Tahun ini, Kustomfest tetap menyediakan hadiah undian atau luckydraw untuk satu pengunjung beruntung.