Pertanyakan Kembali Motivasi Kerjamu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bekerja cerdas. Shutterstock

    Ilustrasi bekerja cerdas. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Lagi-lagi saya menulis soal motivasi kerja. Saya sadar motivasi suka berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan usia, kayaknya.

    1. Waktu SMK, motivasi saya bekerja adalah sekadar nyari duit jajan biar gak ngerepotin orang tua.
    2. Waktu kuliah, motivasi bekerja adalah karena itu sesuatu yang baru, memuaskan rasa penasaran, dan menerapkan ilmu akademik yang saya pelajari di kampus.
    3. Waktu pertama kali kerja, motivasinya adalah karya saya bisa dilihat dan dinikmati banyak orang. Saya bekerja di software house multi-nasional yang projeknya lumayan keren sih.. di samping itu, saya bekerja demi status sebagai "pekerja" karena gak mau dong dibilang pengangguran.
    4. Beberapa saat setelah itu, motivasi bekerja saya berubah lagi. Mau kerja di end-user aja, ingin punya banyak teman perempuan (karena kerja di bidang IT langka banget lho temen cewek), ingin bekerja sambil bersenang-senang di akhir pekan, juga tempat yang menyediakan kegiatan keagamaan sehari-harinya di sela-sela jam kerja agar seimbang kehidupan dunia dan akhirat ^^) Alhamdulillah dapat tempat yang sesuai.
    Tetapi seiring berjalannya waktu pula, saya sering kehilangan motivasi kerja. Terlalu menikmati hidup tanpa tuntutan, tanpa ada yang menuntut. Itu enak banget sih. Rasanya seperti punya duit gak kepake. Sok iye banget, padahal hidup saya belom berkepribadian (tempat tinggal pribadi, kendaraan pribadi) sebagai standar kesuksesan orang-orang kebanyakan. Karena horang kayah versi gw adalah orang yang gak punya utang dan bisa membeli apa yang dia inginkan.Mmakanya, saya banyakin dulu dah punya keinginan.
     
    Namun kehidupan mewah seperti itu gak berlangsung lama kok. Motivasi kerja saya juga berubah lagi...
     
    Kerja itu.. biar punya kecukupan harta selama hidup di dunia dan membantu menjalankan ibadah untuk akhirat yang lebih baik. Tujuannya, biar merasakan hidup yang seimbang.

    Terus terang aja saya takut miskin dan keturunan yang tidak miskin. Dampak dari kemiskinan bisa lebih seram dari apa yang pernah kamu bayangkan.
     
    Akhir-akhir ini saya dapat pelajaran hidup yang berharga, bahwa seharusnya perempuan memang punya keahlian yang menjual. Kita harus berbuat untuk jaga-jaga karena susah meramal masa depan.
     
    Pertama, saya mau melengkapi rukun islam yang kelima bersama Farhan.
    Kedua dan seterusnya, saya  mau menjaga Farhan, amanat yang telah Allah kasih, untuk memberikan kehidupan yang layak serta pendidikan yang layak baginya.
     
    Tulisan ini sudah tayang di Retno

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.