Sabtu, 17 November 2018

Rame-rame Hadang Pandemi Influenza 2018

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita flu. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita flu. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebanyakan orang menganggap influenza adalah penyakit biasa yang sering muncul saat musim hujan. Pada hal influenza musiman telah menyebabkan kematian pada 650 ribu orang setiap tahun. Angka yang mengerikan bukan?

    Flu disebut influenza musiman karena menyerang pada musim paling dingin dalam dua kali setahun. Serangan terjadi sekali di musim dingin belahan bumi utara, dan sekali di musim dingin belahan bumi selatan, tetapi mengancam sepanjang tahun di daerah tropis dan subtropis. Ancaman lainnya adalah virus influenza terus bermutasi, untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika virus jenis baru muncul, dapat dengan mudah menginfeksi orang dan menyebar di antara banyak orang, sehingga dapat menjadi pandemi.

     

    Dr. Wenqing Zhang, Manajer Program Influenza Global WHO menjelaskan bahwa pandemi yang disebabkan oleh virus influenza jenis baru adalah sebuah kepastian. Namun demikian, kita tidak tahu kapan itu akan terjadi, apa strain virus itu, dan bagaimana parahnya penyakit itu.

    Tahun 2018 ini adalah peringatan ke-100 tahun dari salah satu krisis kesehatan masyarakat paling besar dalam sejarah modern, yaitu pandemi influenza tahun 1918 yang dikenal sebagai “flu Spanyol” (Spanish flu). Pandemi influenza 1918 yang hampir tak terbayangkan, menginfeksi sepertiga populasi global saat itu, yaitu sekitar 500 juta orang.

    Pada saat pandemi mereda dua tahun kemudian, lebih dari 50 juta orang diperkirakan telah meninggal. Secara global, jumlah pasien yang meninggal melampaui korban Perang Dunia Pertama, yaitu sekitar 17 juta orang.

    Karena pertimbangan politik, nama Spanyol digunakan untuk pandemi 1918. Korban meninggal lebih banyak terjadi di Prancis dan Amerika Serikat, tetapi hal itu tidak dipublikasikan di negara-negara itu karena sensor masa Perang Dunia I. Dokter Perancis bahkan menyebutnya dengan nama kode “maladie onze”, yang berarti penyakit 11. Ketika penyakit itu muncul di Spanyol, yang netral selama Perang Dunia I, negara itu tidak memiliki sensor pemerintah, sehingga terbit laporan publik pertama terkait pandemi, dan namanya digunakan sampai sekarang.

    Penyakit influenza ini unik, karena patogen biasanya tidak mengenal garis perbatasan nasional, kelas sosial, status ekonomi, dan bahkan usia penderita. Influenza biasanya lebih mematikan pada orang yang sangat muda atau lanjut usia, tetapi pandemi influenza 1918 justru sangat fatal pada pria berusia 20 hingga 40 tahun.

    Satu juta orang di seluruh dunia meninggal dalam wabah tahun 1957 yang dimulai di Cina dan menyebar secara global. Pada 1968, wabah lain menyebabkan kematian pada sekitar 1-3 juta jiwa.

    Pada 2003, kemunculan kembali virus A (H5N1) atau apa yang disebut flu burung, menggambarkan bagaimana virus dapat menular dari hewan ke manusia. Untunglah tidak mencapai tahap pandemi, karena tidak dapat menular secara berkelanjutan dari orang ke orang.

    Pandemi flu babi 2009 virus A (H1N1) dimulai di Meksiko yang menyebar dengan cepat ke lebih dari 214 negara. Antara 105.000 sampai 395.000 orang diperkirakan telah meninggal.

    Meski begitu, dunia relatif beruntung, ternyata lebih ringan daripada beberapa epidemi influenza musiman, yang dapat membunuh dua kali lipat jumlah itu. Kemunculan kembali pada tahun 2004 dari virus influenza yang sangat ganas dengan potensi pandemi, memicu diskusi global tentang akses ke vaksin pandemi oleh negara berkembang.

    Saat ini dunia terlihat sangat berbeda dari yang terjadi 100 tahun yang lalu. Kita sekarang memiliki obat antivirus, vaksin, tes diagnostik, dan teknik pengawasan modern. Kita juga telah belajar dari pandemik berikutnya di abad ke-20 dan 21.

    Kita memiliki lebih banyak alat untuk menghadang dan memerangi pandemik daripada sebelumnya, termasuk pengembangan sistem surveilans influenza global, yang terus memantau evolusi strain virus influenza yang bersirkulasi.

    Selain itu, juga pengembangan perjanjian antar negara, untuk memastikan pembagian virus dan data flu, bersama dengan penguatan kapasitas persiapan global, dan semua upaya untuk terus meningkatkan efektivitas menghadapi influenza musiman, dengan vaksin dan obat antivirus baru yang lebih kuat.

    Beberapa negara dengan tingginya jumlah infeksi pada manusia, termasuk Indonesia pada era Menkes Siti Fadilah Supari menyuarakan keprihatinan bahwa mereka telah berbagi sampel virus dengan ‘the Global Influenza Surveillance and Response System’ (GISRS). Namun demikian, banyak negara tersebut justru tidak memiliki akses ke vaksin yang dibuat menggunakan informasi dan bahan sampel dari negaranya sendiri.

    Untuk meningkatkan akses negara berkembang ke vaksin dan pasokan respons pandemi kritis lainnya, dibentuklah Kerangka Kerja Pandemi Influenza pada tahun 2011 oleh 194 Negara Anggota WHO. Kerangka kerja ini akan membantu negara-negara yang membutuhkan untuk mengakses vaksin, obat antivirus, dan set diagnostik pada saat pandemi.

    Dua manfaat utama dari perjanjian tersebut adalah: pertama, produsen vaksin yang menerima bahan vaksin virus dari GISRS, harus berkomitmen untuk memberikan kepada WHO sekitar 10% dari produksi vaksin influenza mereka, sehingga dapat didistribusikan ke negara-negara yang membutuhkan pada saat terjadi pandemi.

    Kedua, produsen obat dan perangkat diagnostik influenza yang menggunakan material dari GISRS diharuskan menyumbang US $ 28 juta per tahun kepada WHO, yang kemudian menggunakan dana tersebut untuk meningkatkan kemampuan negara-negara untuk menghadang influenza.

    Dokter sebaiknya mengetahui kapan harus menggunakan obat anti flu terbaik, yaitu oseltamivir (Tamiflu®) atau penghambat neuraminidase lainnya. CDC saat ini merekomendasikan penggunaan Tamiflu® secara dini, untuk kelompok berisiko tinggi akan terkena penyakit berat dan anak.

    Tamiflu®  harus diberikan dalam waktu 48 jam setelah muncul gejala klinis. Namun demikian, kebanyakan orang dengan influenza akan memiliki penyakit yang relatif ringan, dan penggunaan Tamiflu® secara rutin tidak disarankan, untuk orang dalam kelompok di luar indikasi yang berisiko tinggi tersebut.

    Ternyata lebih dari 80 persen anak yang meninggal terkait flu terbukti tidak divaksinasi. Hal ini penting diketahui bahwa vaksin influenza tetap merupakan sarana terbaik untuk pencegahan, dan pada usia berapapun masih belum terlambat untuk mendapatkan vaksin influenza.

    Komposisi vaksin influenza yang direkomendasikan untuk digunakan pada musim influenza tahun 2018-2019 adalah vaksin quadrivalent. Vaksin ini dapat memberikan kekebalan atas 4 jenis virus influenza, yaitu virus Michigan / 45/2015 (H1N1), virus Singapura / INFIMH-16-0019 / 2016 (H3N2), virus Colorado / 06/2017 (Victoria / 2/87); dan virus Phuket / 3073/2013 (Yamagata /16/88).

    Momentum seratus tahun ‘Great Influenza’ tahun 1918, mengingatkan kita akan hebatnya mutasi virus influenza, sehingga selalu berubah, ada dan mengancam kita. Pemberian obat oseltamivir (Tamiflu®) dan imunisasi influenza, tetap terbukti bermanfaat dalam strategi menghadang influenza.

    Tulisan ini sudah tayang di Dokterwikan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.