Yuk, Belajar Memahami Fintech

Acara Ngobrol @tempo, bertema sosialisasi program fintech peer to peer lending : "Kemudahan Dan Risiko Untuk Konsumen" di Balai Kartini, Jakarta (23/11). Fotografer/Tempo/Aryus Probodewo

TEMPO.CO, Jakarta - Mari kita belajar tentang Fintech atau  Financial Technology. Saat ini sedang booming, bukan karena banyak pemakainya, tetapi justru banyaknya kasus negatif tentang Fintech. Sudah tahu kan kasus apa saja yang merebak?

Ada 3 tema utama dari kasus negatif yang tengah marak dibahas oleh masyarakat, yaitu isu tentang rentenir berkedok teknologi (rentenir online), penyalahgunaan akses data (kontak nasabah), dan cara penagihan yang tidak beretika. Kasus tentang penagihan yang tidak beretika karena melibatkan preman atau orang-orang berperawakan dan berwajah seram adalah kasus yang paling eksis karena dibicarakan oleh banyak orang.

Faktanya, isu-isu miring tersebut terjadi karena para peminjam (nasabah) memilih perusahaan fintech (peer to peer/P2P lending) yang salah. Kenapa salah? Karena perusahaan itu ilegal atau tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Banyak masyarakat yang belum tahu cara mengenali perusahaan fintech yang terpercaya dengan perusahaan yang ilegal. Dengan kejadian-kejadian seperti penipuan dan penagihan yang tidak beretika, OJK mulai mengedukasi masyarakat untuk bisa mengenali perusahaan fintech yang legal dengan perusahaan yang ilegal. Perhatikan tips pembiayaan aman melalui fintech lending pada gambar berikut agar terhindar dari penipuan dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Penjelasan lebih jelasnya sebagai berikut.

1.  Sebagai peminjam (borrower)

  • Setiap calon peminjam harus mengecek legalitas perusahaan fintech (sudah terdaftar dan memiliki izin OJK atau belum).
  • Harus mengajukan nominal pinjaman yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan untuk melunasi.
  • Harus memperhatikan dengan seksama tentang syarat dan ketentuan yang diberlakukan oleh masing-masing perusahaan fintech.
  • Harus membandingkan penawaran pinjaman yang disediakan oleh beberapa penyelenggara (perusahaan fintech terpercaya) lainnya.
  • Jika perusahaan fintech yang sudah terdaftar di OJK melakukan pelanggaran atau penyelewengan harus segera dilaporkan ke AFPI (Indonesia Fintech Lending Association) dan OJK
2.  Sebagai pemberi pinjaman (lender)
  • Harus mengecek legalitas penyelenggara terlebih dahulu (sudah terdaftar dan memiliki izin OJk atau belum).
  • Harus memahami risiko setiap calon peminjam sesuai dengan score (riwayat pinjaman) di platform fintech.
  • Harus melakukan diversifikasi saat memberi pinjaman agar tidak menderita kerugian kalau seorang yang diberi pinjaman tidak dapat melunasi pinjaman atau menunggak.
  • Harus membanding risiko kredit dan imbal hasil pinjaman dengan beberapa penyelenggara (perusahaan fintech yang terpercaya) lainnya.
  • Jika perusahaan fintech yang sudah terdaftar di OJK melakukan pelanggaran atau penyelewengan harus segera dilaporkan ke AFPI (Indonesia Fintech Lending Association) dan OJK
Praktikkan tips tersebut agar bisa melakukan transaksi dan mendaftar menjadi anggota di perusahaan fintech yang terpercaya. Simak beberapa informasi pada gambar berikut agar lebih memahami tentang perusahaan fintech yang terdiri dari ekosistem, kategori fintech, dan pihak-pihak yang terlibat di dalam setiap perusahaan fintech. 
 
 
 Mau tahu seperti apa keseruan acara ngobrol @tempo bersama OJK? Btw, kemarin ada 3 pembicara keren dari OJK, perusahaan fintech terpercaya (Klik Acc), dan AFPI. Benar-benar membuka mata yang tadinya tidak terlalu peduli atau memandang sebelah mata tentang fintech, Memang benar, segala sesuatu itu harus dikenali terlebih dahulu untuk lebih paham. Untungnya, saya termasuk orang yang sudah cukup tahu tentang keberadaan fintech jadi bisa lebih mendalami tentang pengenalan (sosialisasi) fintech kepada bloggers.
 
Kemunculan perusahaan fintech di Indonesia tergolong baru karena di Inggris sudah jauh lebih lama muncul dan digunakan oleh masyarakat. Kenapa di Indonesia akhirnya muncul banyak perusahaan fintech? Karena adanya kebutuhan masyarakat akan dana segar dalam waktu cepat dan adanya masyarakat berkebutuhan khusus.
 
Dana pinjaman yang dibutuhkan oleh masyarakat berkebutuhan khusus biasanya untuk membuka usaha atau keperluan pribadi yang mendesak seperti biaya berobat. Sayangnya untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat pasti sulit karena banyak orang enggan untuk memberikan pinjaman. Banyak orang takut uang yang dipinjamkan tidak dikembalikan karena peminjam pura-pura lupa, sengaja tidak mau memmbayar, atau alasan lainnya.
 
Kebutuhan dasar pelaku usaha berkebutuhan khusus antara lain:
  • Sumber pendanaan untuk memulai atau mengembangkan usaha 
  • Cara memasarkan jasa dan barang (produk) yang dihasilkan agar bisa dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat umum (konsumen)
  • Cara mengetahui harga jual terbaik
  • Cara mengirim barang yang dijual melalui daerah, kota, dan negara (lintas wilayah)
  • Cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi
Pelaku usaha berkebutuhan khusus biasanya dari kalangan yang kurang berpendidikan dan tidak punya link atau hubungan yang luas dengan berbagai klien (konsumen) sehingga mereka butuh dibantu. Beberapa fintech yang profesional biasanya tidak hanya memberi bantuan dana, tetapi juga membantu masalah-masalah lainnya yang dihadapi oleh para pelaku UMKM (Usaha Kecil dan Menengah). Tolong menolong harusnya menjadi dasar dari pendirian perusahaan fintech agar kegiatan bisnisnya semakin berkah dan berjalan lancar.
 
Jadilah orang yang bijak sehingga tidak mudah terpancing berita-berita hoax atau sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Jadi orang yang bijak juga diperlukan untuk memutuskan menjadi bagian dari fintech sebagai peminjam atau pemberi pinjaman. Semua itu pilihan Anda masing-masing. 
 
Tulisan ini sudah tayang di Renayku
 





OJK Temukan 18 Investasi dan 105 Pinjol Ilegal: Money Game Paling Banyak

1 jam lalu

OJK Temukan 18 Investasi dan 105 Pinjol Ilegal: Money Game Paling Banyak

Satgas Waspada Investasi OJK menemukan 18 entitas yang melakukan penawaran investasi tanpa izin dan 105 pinjol ilegal pada September 2022.


Terpopuler Bisnis: Bahlil Ungkap Kondisi Dunia Gelap, Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp 175,3 T

15 jam lalu

Terpopuler Bisnis: Bahlil Ungkap Kondisi Dunia Gelap, Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp 175,3 T

Berita terpopuler ekonomi dan bisnis sepanjang Selasa dimulai dari Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi global saat ini sangat gelap.


Sebut Kondisi Global Sangat Gelap, Bahlil Uraikan Banyaknya Fakta Ketidakpastian

1 hari lalu

Sebut Kondisi Global Sangat Gelap, Bahlil Uraikan Banyaknya Fakta Ketidakpastian

Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi global saat ini sangat gelap.


Terkini Bisnis: OJK Soal Penghimpunan Dana di Pasar Modal, Janji Freeport ke RI

1 hari lalu

Terkini Bisnis: OJK Soal Penghimpunan Dana di Pasar Modal, Janji Freeport ke RI

Berita terkini ekonomi bisnis hingga Selasa sore ini antara lain OJK menyatakan hasil penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 175,3 triliun.


OJK Sebut Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Rp 175,3 Triliun: Ada 48 Emiten Baru

1 hari lalu

OJK Sebut Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Rp 175,3 Triliun: Ada 48 Emiten Baru

Hingga 28 September 2022, OJK mencatat jumlah investor pasar modal sebanyak 9,76 juta Single Investor Identification (SID).


OJK: Menaikkan Suku Bunga Bank Bukan Satu-satunya Cara Jaga Likuiditas

2 hari lalu

OJK: Menaikkan Suku Bunga Bank Bukan Satu-satunya Cara Jaga Likuiditas

OJK memastikan perbankan tidak akan serta merta menaikkan suku bunga pinjaman atau simpanannya untuk menjaga likuiditas.


OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 10,62 Persen Agustus 2022, DPK 7,77 Persen

2 hari lalu

OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 10,62 Persen Agustus 2022, DPK 7,77 Persen

Kredit perbankan pada bulan Agustus tumbuh sebesar 10,62 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 6.179,5 triliun.


Nilai Pengumpulan Dana di Bursa Tembus Rp 175,34 Triliun

2 hari lalu

Nilai Pengumpulan Dana di Bursa Tembus Rp 175,34 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan mencatat hasil penggalangan dana oleh perusahaan-perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia sangat baik.


Modal Inti Rp 3 Triliun Segera Terpenuhi, Bank Sultra Bersinergi dengan bank bjb

2 hari lalu

Modal Inti Rp 3 Triliun Segera Terpenuhi, Bank Sultra Bersinergi dengan bank bjb

Bank Sultra segera merealisasikan aturan pemenuhan modal inti minimal Rp 3 Triliun bagi setiap perbankan sesuai yang disyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


Kisah CEO Pluang Jatuh Bangun Buka Peluang Investasi Bagi Masyarakat Indonesia

2 hari lalu

Kisah CEO Pluang Jatuh Bangun Buka Peluang Investasi Bagi Masyarakat Indonesia

Claudia Kolonas, pendiri sekaligus CEO Pluang bukan sosok yang asing di industri keuangan non-bank di Indonesia. Simak profil lengkapnya berikut ini.