Traveling Ditagih Oleh-oleh, Bisa Berkelit dengan Lima Alasan Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di Khan el-Khalili yang terdapat di pusat kebudayaan Islam kuno di Kairo, Mesir, 18 Agustus 2016. Khan el-Khalili merupakan surga bagi para wisatawan, karena tempat ini adalah pusat penjualan oleh-oleh khas Mesir. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    Suasana di Khan el-Khalili yang terdapat di pusat kebudayaan Islam kuno di Kairo, Mesir, 18 Agustus 2016. Khan el-Khalili merupakan surga bagi para wisatawan, karena tempat ini adalah pusat penjualan oleh-oleh khas Mesir. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    TEMPO.CO, Jakarta - Budaya kita adalah meminta oleh-oleh kepada kawan, kerabat, dan keluarga yang akan dan sedang jalan-jalan. Lebih sering mana kamu mendengar kawan, kerabat, dan keluargamu berkata “Jangan lupa oleh-olehnya!” dibanding mengucap “Hati-hati di jalan.”, “Take care and have fun!“, “Safe flight!“, ataupun “Titip salam buat Pangeran Charles!” ketika mereka mengetahui kamu akan jalan-jalan?

    Atau malah, jangan-jangan perkataan “Jangan lupa oleh-olehnya!” adalah sebuah standar basa-basi yang diucapkan ketika mengetahui seseorang yang kamu kenal akan dan sedang jalan-jalan? Ataukah itu ucapan lain untuk menyatakan “Hati-hati di jalan” seperti saya yang biasa berkata “Sudah makan belum?” untuk menunjukkan rasa sayang. Tapi kalau memang ini adalah sebuah basa-basi, maka ini adalah sebuah basa-basi yang buruk.

    Sama buruknya seperti pedagang cendera mata yang terus memaksamu membeli sesuatu yang mereka dagangkan, walaupun kamu sudah bilang tidak. Walaupun tidak lebih buruk dibanding kamu di iklan layanan masyarakat yang berkata tidak, pada(hal) korupsi.

    Pejalan ini, sebut saja saya, adalah seseorang yang memang kerap mendapatkan permintaan untuk membelikan oleh-oleh setiap kali saya jalan-jalan. 

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oleh-oleh berarti “sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan”. Walaupun sudah disebutkan bahwa oleh-oleh berarti sesuatu yang dibawa dari bepergian, namun mengapa mereka menolak kalau saya berikan pakaian yang kotor untuk dicuci, dompet yang kosong untuk diisi, dan fisik yang lelah untuk dipijat?

    Saya kan traveling pakai uang dan jatah cuti sendiri, tapi mengapa kalau tidak membawa apa-apa, mereka yang marah? 

    Sebagai seorang traveler, saya memberikan masukan lima alasan, mengapa tidak sebaiknya membelikan oleh-oleh bagi kawan di kantor, kerabat di rumah, dan keluarga di kampung halaman, yaitu:

    1. Memberikan Oleh-oleh Bukan Kewajiban

    Entah sejak kapan perihal memberikan oleh-oleh ini menjadi sebuah kewajiban di Indonesia. Ini adalah kondisi saat seseorang yang meninggalkan (untuk pergi ke daerah lain), diharapkan, atau kalau tidak diharuskan, membawa pulang oleh-oleh untuk yang ditinggalkan.

    2. Mencari Oleh-oleh Itu Merepotkan

    “Aku gak usah diberikan oleh-oleh.” Kata seorang teman. “Tapi aku minta dikirimkan kartu pos dari sana.”

    YEEE SAMA AJA ONCOM! Memangnya dipikir mencari kartupos zaman sekarang itu mudah? Okelah kartu pos mungkin hanya seharga beberapa sen, tapi kan kita harus membeli perangko lagi –berpikir apakah akan dikirim biasa atau kilat atau kilat khusus, menempelkannya dengan air liur, lalu mencari kotak posnya.

    Habis beli oleh-oleh di Azerbaijan. 

    3. Waktu yang Terbatas untuk Jalan-jalan

    Sebagai seorang karyawan, saya, mungkin juga kamu, pastinya hanya memiliki waktu yang terbatas untuk jalan-jalan. Bagi kebanyakan orang Indonesia, biasanya sepertiga waktu liburan akan dihabiskan untuk mencari oleh-oleh. Sementara bagi saya, sepertiga waktu malam saya habiskan untuk tidur.

    4. Belum Tentu Bawa Banyak Uang

    Ya, traveling bagi kita, para sobat misqueen, tidak dapat disamakan dengan ulah Crazy Rich Surabayan ketika liburan dan melakukan sesi pemotretan pre-wedding di lima benua. 

    Kita jalan-jalan saja nabungnya lama, kadang sampai irit makan dan banyak minum, masa situ main nitip-nitip saja dan minta ditalangin dulu. Memangnya kita tukang talang air? Belum kalau titipannya adalah tas branded dari La Valle Village. Sudah antrenya panjang, belum tentu kalau sudah di dalam tokonya, kita masih memiliki kemampuan finansial untuk membelinya.

    Branded Outlets di La Valle Village, Paris, Prancis

    Berjalan-jalan, bukan berarti pergi membawa uang banyak seperti halnya Pablo Escobar. Ketika liburan, saya biasa membawa uang secukupnya, dan menyisakan sebagian di ATM yang dapat diambil kapan saja, sepanjang ada ATM-nya. Untuk mengambil uang di ATM ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena kita harus mencari mesinnya, memasukkan kartunya, berusaha mengingat-ingat PIN ATM yang pasti beda dengan password Instagram, dan mengambil uang yang ada di dalamnya, tentunya ditambah service chargeyang lumayan apabila melakukan pengambilan di luar negeri.

    5. Tidak Semua Orang Suka Diberikan Oleh-oleh

    Saya pernah memberikan mantan saya sebuah snow-ball dari destinasi yang saya kunjungi, karena saya tahu dia mengoleksi snow-ball dari negara-negara yang pernah dikunjunginya. Namun alih-alih senang, dia malah kesal ketika saya belikan snow-ball tersebut, karena dia berprinsip bahwa snow-ball yang dikoleksinya, harus dibeli sendiri dari tempat yang pernah dia kunjungi, bukan pemberian orang lain.

    Tulisan ini sudah tayang di backpackstory.me


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    3 Calon Ketua Umum PPP Pengganti Romahurmuziy yang Ditangkap KPK

    Partai Persatuan Pembangunan menggelar musyawarah kerja nasional di Bogor, 20 Maret 2019. Hal itu dilakukan untuk mencari pengganti Romahurmurziy