Sejenak Menikmati Kerinduan akan Bandung yang Cozy

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan layang Antapani penghubung  jalan Terusan Jakarta Antapani yang akan menuju Jalan Jakarta dan Ahmad Yani sudah mulai bisa dilalui masyarakat Bandung. Jembatan ini bisa menjadi salah satu ikon kota Bandung yang menarik untuk berswa foto. Tempo/Rully Kesuma

    Jembatan layang Antapani penghubung jalan Terusan Jakarta Antapani yang akan menuju Jalan Jakarta dan Ahmad Yani sudah mulai bisa dilalui masyarakat Bandung. Jembatan ini bisa menjadi salah satu ikon kota Bandung yang menarik untuk berswa foto. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pertengahan Desember tahun lalu, saya tiba-tiba merasa harus ke Kota Bandung. Sudah lama saya tidak menyapa Kota Kembang ini. Sepertinya terakhir ke sana saat baru turun dari pendakian Gunung Papandayan di Garut, setahun sebelumnya. Saya sempat panik dan bingung, aduh pakai transportasi apa nih yang bisa tepat waktu. Mepet banget nih!

    Saya yang akhir-akhir ini sering memesan tiket lewat aplikasi langsung sibuk mencari alternatif kendaraan untuk ke Bandung. Pilihan jatuh pada Kereta Api dengan pertimbangan kalau Bus, khawatir ngetem-nya lama. Tiket pun sudah ditangan, Bandung I’m coming.

    Saya tiba di Bandung ketika hari sudah gelap, tapi beruntung lah Stasiun Bandung sangat ramai. Jadi suasananya tidak terlalu mengerikan. Saya langsung mencari trasportasi daring untuk bisa sampai ketempat di mana saya ingin merebahkan badan dan beristirahat. Karena esok hari, perjalanan harus saya lanjutkan ke Jatinangor.

    Seorang kawan menyarankan saya untuk menggunakan travel saja agar cepat sampai tujuan.

    Wah, benar juga tuh.” pikir saya.

    Menuruti rekomendasi kawan, saya tiba di Jatinangor dengan hanya memakan waktu perjalanan kurang dari satu jam. Cepet banget ternyata. Tanpa macet dan bebas hambatan, jalan tol. 

    Saya segera check in hotel yang sudah dipesan, lagi-lagi via aplikasi. Ternyata hotelnya tuh bersatu dengan Café dengan konsep kekinian. Namanya City Edge Café. Lantai dasarnya berupa Café, di atasnya terdapat area berolah raga, naik lagi terdapat kamar-kamar yang disewakan yang tersebar di dua lantai teratas. Saya menempati lantai 4 dengan kamar yang luas, bersih, pencahayaan baik, dan nyaman.

    Ketika urusan saya beres di salah satu universitas negeri yang ada di Jatinangor, saya menyempatkan diri untuk menikmati Café yang dipenuhi banyak anak muda ini. Mereka berkumpul dengan laptop terbuka dihadapan mereka masing-masing. Saya menduga mereka sedang mengerjakan tugas kuliah atau proyek-proyek ala mahasiswa zaman now.

    “Mahasiswa sekarang ngerjain tugasnya di Café ya, dulu kayaknya gue di Perpustakaan. Paling banter di Kantin, bahkan selonjoran di Koridor Kampus.” ucap saya dalam hati.

    Cukup lama saya duduk-duduk di Café sambil menikmati makanan dan minuman yang saya pesan. Hingga sudah saatnya saya kembali ke Bandung dan menikmati liburan sejenak di sana. Sore hari saya tiba di Bandung saat orang-orang kembali ke rumah seusai mencari nafkah, hingga jalanan terlihat padat merayap. Suasana pun terasa lebih syahdu karena iringan hujan rintik-rintik.

    Saya tiba di kosan sepupu dibilangan Taman Sari saat hari mulai gelap. Beberapa hari ke depan, saya berencana untuk mengeksplore Kota Bandung, Liburan di Bandung ceritanya. Karena kalau ke Bandung saya seringnya untuk urusan akademik atau hanya untuk singgah ketika berlibur ke Garut atau ke Tasikmalaya. Namun, ketika esok hari, mata ini baru melek, telepon selular saya berbunyi.

    “Teh pulang kapan? Hari Minggu udah di rumah ya. Mamah ada perlu bantuan.” Kiranya itu pesan yang sampai pada saya dan membubarkan jadwal liburan di Bandung

    Saya langsung mencari tiket kereta untuk pulang, tapi ternyata semua tiket di hari Sabtu atau Minggu sold out. Jujur saya sedang malas naik Bus. Pertama jadwalnya tidak tahu, kedua malas ngetem-nya suka lama, ketiga jarak antar kursi terlalu dekat, lutut saya mentok. 

    “Mah, tiket kereta habis sampai Minggu. Paling terpaksa pulang pakai Bus hari Minggu pagi.” Tetep nawar, karena masih ingin berlibur. 

    “Sabtu aja ya teh pulangnya.” Pesan dari mamah tiba kembali

    “Oke, aku pulang hari Sabtu pagi deh ya. Hari ini mau ketemu kawan dulu.”

    Karena mamah sangat-sangat membutuhkan bantuan, jadilah saya pulang hari Sabtu pagi. Menghindari macet dan jika macet se macet-macetnya tetap sampai diterminal ketika matahari masih bersinar.

    Saat itu saya tak kepikiran sama sekali untuk menggunakan alternatif transportasi lainnya seperti travel. Padahal ya, kalau saya pakai travel kan waktu saya untuk berlibur juga bisa jauh lebih banyak dan efisien. Karena waktu keberangkatan travel jauh lebih pasti, terjadwal.

    Saya bisa mengatur liburan hari Jumat-Sabtu sore, malamnya langsung balik ke Jakarta dengan travel. Meskipun akan tiba di Jakarta kemalaman, toh kondisi di Pool travel tuh jauh lebih aman dari terminal. Ah kenapa saya baru sadar sekarang. Padahal pesan tiket travel itu juga bisa daring via aplikasi. 

    Jadinya, kemarin di Bandung saya hanya sempat menikmati sajian makanan Korea saja deh di Chagiya Korean BBQ di bilangan Taman Sari. Tempatnya enak, makanannya enak, dan saya suka dengan interiornya yang berwarna-warni dan menggemaskan.

     Tapi, meski singkat, saya sangat menikmati perjalanan ke Bandung ini. Ayo kita ke Bandung. 

    Tulisan ini sudah tayang di Kelanaku


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.