Pencopetan di Dalam Kereta yang Butuh Teknik Khusus

Penumpang kereta berebut masuk gerbong setelah menunggu lama di Stasiun Rawa Buntu, Kamis, 17 Januari 2019. TEMPO/MARTHA WARTA SILABAN

TEMPO.CO, Jakarta - Pencopetan di dalam kereta itu paling mengesalkan tapi sering terjadi. Dan harus diakui, mereka punya taktik yang tinggi. Gerakan, desakan, itu menggunakan teknik khusus dan membutuhkan keahlian tinggi. Inilah pengalamanku. 

Desakan itu terasa tak biasa. Saat itulah telepon genggamku raib.

Itu kali ke-26 aku naik kereta. Kali itu, aku pulang bersama teman kantor, Dahlia Rera, yang biasa aku panggil Dai.

Hari itu kami pulang sesuai jam kantor. Jam enam teng sudah bergegas menuju Stasiun Palmerah.

Seperti biasa, dari Stasiun Palmerah menuju Tanah Abang, kami bisa leluasa duduk di kereta commuterline Jabodetabek.

Sampai di Stasiun Tanah Abang, suguhan pemandangannya seperti biasa. Lautan manusia. Sejak menjadi pengguna kereta, aku sudah hafal betul bagaimana bertindak di sini. Tas diransel ke depan. Peluk erat. Dan ketika kereta berhenti, langsung lompat keluar. Sedetik pun terlambat, aku hanya akan terseok-seok di dalam kereta. Ibarat gorengan di kuali.

Aku dan Dahlia gampang saja turun dari kereta. Di peron lima. Yang sulit itu adalah bergerak maju menuju tangga naik untuk pindah peron. Ibarat berenang di lautan. Pelan-pelan menyibak air.

Saat kami sampai, sebenarnya kereta tujuan stasiun Manggarai–stasiun transit kami– sudah tersedia di peron tiga. Tapi karena begitu lamanya menyibak lautan manusia, ketika turun tangga, kereta sudah melaju. Kalau begini ceritanya, biasanya akan lebih lama menunggu kereta berikutnya.

Benar saja. Tidak ada kegiatan lain yang perlu dilakukan selain menunggu.

Aku dan Dahlia bersiap di peron tiga. Berdiri samping-sampingan. Ujung kaki kami tepat di garis kuning peron. Sekitar sedikit lebih panjang dari penggaris tiga puluh sentimeter dari jalur kereta. Kami berdiri paling depan. Ini juga salah satu laku yang sudah kami hafalkan sebagai anker atau anak kereta.

Kami tak banyak bercerita. Masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Hanya sesekali saling berhadapan. Menunjukkan video lucu di instagram atau sekadar berkata, “Hadeeh, lamanya.”

Tiga puluh menit kemudian ada penampakan kereta di jalur tiga. Tujuan Bogor. Ini kereta yang kami tunggu.

Kami bersiap. Kurapikan posisi tas di depan perut. Kupeluk ringan. Telepon genggam kumasukkan ke saku celana sebelah kiri. Model sakunya ini menempel miring tanpa penutup. Tapi kantongnya agak dalam sampai ke paha. Orang dari belakang mulai mendesak-desak.

“Dai, siap-siap,” kataku menyemangati. Hanya basa-basi. Sesungguhnya aku yang sedang berusaha menguatkan diri. Jujur saja, dia lebih petarung dibandingkan aku soal urusan naik kereta. Aku masih bocah. Dia orang Bekasi asli yang kerja di Jakarta–tapi sekarang dia sudah indekos yaa–.

Kereta semakin mendekat. Desakan makin menjadi. Dari belakang. Kiri dan kanan.

Saat kereta benar-benar berhenti, orang-orang semakin beringas. Dorongan-dorongan semakin kencang. Aku dan Dahlia terpisah.

Kami menyelamatkan diri masing-masing. Selamat untuk masuk kereta.

Akhirnya! Aku senyum lega menyadari tubuhku sudah ada di dalam gerbong. Berhasil!

Tak perlu berpegangan. Peluk erat tas saja. Kami, penumpang, saling mengelilingi di dalam kereta. Menempel. Erat. Tak akan ada yang jatuh meski kereta ngerem mendadak.

Kereta mulai bergerak. Saatnya bertanya Dahlia di gerbong mana. Hati-hati kugerakkan tangan kiri ke bawah. Takut orang lain mengira tanganku mau bergerak eneh-aneh.

Belum sampai jari-jariku di kantong celana, tiba-tiba aku merasa janggal. Kantong celana plong. Rasa tak ada isinya. Tak ada beratnya.

Benar saja. Telepon genggamku dicopet orang.

Selama perjalanan, aku mulai merenung. Mencoba memutar ulang peristiwa desak-desakan tadi. Memang tak biasa. Aku sudah hampir sebulan naik kereta. Desak-desakan itu hal biasa. Tapi tadi itu memang terasa beda. Dibuat-buat.  

Ada orang yang sudah menilik korban. Mengatur gerakannya. 

Hari itu, aku jadi salah satu korban pencopetan. Bisa jadi ada korban lain di stasiun yang sama. 

Sejak pertama kali menjadi anker, aku sudah memberi stigma kepada stasiun Tanah Abang sebagai stasiun paling beringas yang aku lewati. Maka setelah telepon genggamku itu raib, aku tak mau lagi melewati stasiun itu untuk berangkat atau pulang kerja.

Kalau mau ke kantor, aku berhenti di stasiun Karet lalu memesan transportasi online. Demikian sebaliknya, dari kantor langsung ke stasiun Karet.

Bukannya menyerah karena peristiwa itu. Tapi ada sisi kemanusiaan yang menurutku tereduksi oleh situasi-situasi di stasiun itu. Yang memang sejak menjadi anker, aku sudah merasakannya.






Bos INKA Curhat Ribuan Kereta Uzur: Angkutan Penumpang Biasanya Kurang Feasible

4 hari lalu

Bos INKA Curhat Ribuan Kereta Uzur: Angkutan Penumpang Biasanya Kurang Feasible

Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA Budi Noviantoro menceritakan saat ini ada ribuan kereta yang umurnya terlampau tua atau uzur


Menhub Targetkan Kereta Barang dari KEK Sei Mangke-Kuala Tanjung Beroperasi Bulan Depan

9 hari lalu

Menhub Targetkan Kereta Barang dari KEK Sei Mangke-Kuala Tanjung Beroperasi Bulan Depan

Budi Karya menargetka kereta api barang dari Pelabuhan MultigunaCe KEK Sei Mangkei bisa dioperasikan mulai pada bulan depan.


Lebih dari 10 Ribu Tiket Kereta Api Terjual di Hari Pertama Pameran, KAI Tambah Kuota Promo

17 hari lalu

Lebih dari 10 Ribu Tiket Kereta Api Terjual di Hari Pertama Pameran, KAI Tambah Kuota Promo

Melalui promo itu, KAI menjual tiket perjalanan kereta jarak jauh kelas eksekutif Rp 150 ribu, bisnis Rp 70 ribu, ekonomi Rp 30 ribu.


Kemenhub Ungkap 3 Penyebab Kecelakaan di Perlintasan Sebidang

21 hari lalu

Kemenhub Ungkap 3 Penyebab Kecelakaan di Perlintasan Sebidang

Kemenhub mencatat 85 persen kecelakaan terjadi di perlintasan yang tidak dijaga.


Rangkaian EMU-CIT Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mulai Diboyong ke Depo Tegalluar

22 hari lalu

Rangkaian EMU-CIT Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mulai Diboyong ke Depo Tegalluar

Rangkaian Kereta Inspeksi untuk kebutuhan perawatan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sedang dalam perjalanan menuju Depo Tegalluar, Kabupaten Bandung.


Kemenhub Ajak Asing dan Swasta Investasi Kembangkan Industri Kereta Indonesia

26 hari lalu

Kemenhub Ajak Asing dan Swasta Investasi Kembangkan Industri Kereta Indonesia

Kemenhub mengajak investor dari negara mitra dan sektor swasta mengembangkan industri perkeretaapian di Indonesia.


PT KAI Daop I Tutup 36 Titik Perlintasan Sebidang Sejak Januari 2022

39 hari lalu

PT KAI Daop I Tutup 36 Titik Perlintasan Sebidang Sejak Januari 2022

PT KAI Daop 1 Jakarta menyatakan telah menutup 36 titik perlintasan sebidang sejak Januari 2022.


Flyover Ciroyom untuk Lintasan Feeder Kereta Cepat Dibangun Oktober 2022

49 hari lalu

Flyover Ciroyom untuk Lintasan Feeder Kereta Cepat Dibangun Oktober 2022

Flyover yang melintasi rel kereta di ruas Jalan Ciroyom Bandung untuk feeder kereta Cepat Jakarta Bandung ditargetkan dibangun mulai Oktober 2022.


Putra Mahkota Dubai Tak Malu Naik Kereta di London Meski Tajir Melintir

50 hari lalu

Putra Mahkota Dubai Tak Malu Naik Kereta di London Meski Tajir Melintir

Putra Mahkota Dubai, Sheikh Hamdan mengunggah foto dirinya sedang naik kereta bawah tanah di London.


Terpopuler Bisnis: Pegawai Alfamart Diminta Minta Maaf, Aturan Baru Naik Kereta

50 hari lalu

Terpopuler Bisnis: Pegawai Alfamart Diminta Minta Maaf, Aturan Baru Naik Kereta

Berita terpopuler ekonomi bisnis sepanjang Senin, 15 Agustus 2022 dimulai dengan manajemen Alfamart buka suara tentang kasus yang menimpa pegawainya.