Pengalaman Kontemplatif Soal Otoritas Tubuh di Thailand

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang aparat keamanan menyapa para pekerja di sebuah bar di kawasan Walking Street di Pattaya, Thailand, 29 Maret 2017. AFP PHOTO

    Seorang aparat keamanan menyapa para pekerja di sebuah bar di kawasan Walking Street di Pattaya, Thailand, 29 Maret 2017. AFP PHOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Bulan lalu, Aku dan Renti  jalan-jalan ke Pattaya, Thailand. Pattaya hanya sekitar dua jam dari Bangkok. Jadi masih terjangkau dengan waktu kami yang tak banyak. Agenda khusus kami adalah menonton Cabaret Show. Eh, ternyata kami kehabisan tiket. Jadilah tak ada tempat yang kami tuju malam itu.

    Pintu Masuk Walking Street

    Akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke daerah Walking Street. Sekalian makan malam. Malam itu sekira jam 7, kami keluar dari penginapan. Jalan kaki sekilo lebih.

    Sampai di sana, pintu gerbang Walking Street dijaga polisi dong ya. Tahu di sepanjang jalan ada apa? Perempuan berdiri dan menari di dalam etalase toko! Iya! Kamu nggak salah baca kok!

    Nih!

    Mereka ngapain?
    Masih nanya, sist?

    Mereka jualanlah!
    Jualan jasa!


    Lah, tadi dijaga polisi, gimana dong? Thailand telah melegalkan profesi ini, gaes. Jadi, pendapatan mereka berkontribusi bagi devisa negara. Asik!

    Ada dua hal yang menarik disini. Pertama, mereka menjalani profesi itu karena keinginannya sendiri. Artinya, dia sebagai pemilik tubuh berkuasa penuh atas dirinya. Tahu apa yang sedang dilakukannya. Kedua, ini yang menjadi soal. Bisa jadi mereka adalah korban perdagangan manusia, atau masih usia anak.

    Ketika dia adalah orang dewasa yang paham akan semua hal yang kamu pikirkan tentangnya, masalahmu apa?

    Baru-baru ini, di Indonesia sedang heboh dengan 80 juta. Seorang selebritas disorot babak belur tanpa ampun oleh media. Wajahnya selalu tayang di pemberitaan nasional, koran daerah, televisi, bahkan di explore Instagram.

    Bahkan dijadikan bahan bercandaan!

    Apa yang salah dengannya?
    Apa yang dirugikan dari kita?

    Ngomongin soal moral? Come on! Kita sesuci apa sih?

    Tubuhnya otoritasnya! Kamu pun begitu! Tubuhmu otoritasmu!

    ‘tubuh buka atau tutupi,
    bukan parameter moralitas dan harga diri’

                    Potongan lirik lagu Tika & the Dissidents, judul: tubuhku otoritasku

    Mungkin sering dengar ini: orang Amerika udah mikir gimana caranya nanam bunga di Mars, eh kita soal selangkangan pun masih diurusin netijen. Urusan surga dan neraka biarlah urusan pribadi, gaes!

    Processed with VSCO with hb2 preset
    Terimalah senyum dari kami yang penuh dosa untuk kalian yang suci! Wkwk.
    Salam sayang nan kontemplatif dari kami di Thailand. 
    Tulisan ini sudah tayang di Gustersihombing

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.