Bungkus Sampahmu di Kereta, Seperti Mengantongi Permen

Penumpang bersiap menaiki gerbong kereta di Stasiun Bekasi Timur yang baru beroperasi, di Bekasi, 8 Oktober 2017. Stasiun ini beroperasi berbarengan dengan rute kereta baru Jakarta Kota - Cikarang. Tempo/Fakhri Hermansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Kita sering mendengar seruan agar membuang sampah pada tempatnya. Tapi entah kenapa, seruan itu bak peraturan yang dibikin untuk dilanggar. Masih banyak yang membuang sampah sembarangan. 

Mungkin perlu kita ingatkan kejadian yang baru saja lewat, sepekan lalu. Nenek Nurjannah Djalil meninggal dunia setelah sempat selamat dari banjir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis pekan lalu. Nenek yang berusia 70 tahun ini sempat viral di media sosial. Fotonya tersebar sedang menggendong cucunya sambil memeluk batang pohon yang digenangi air. Pertolongan baru datang setelah tiga jam kemudian. Ia tak selamat meski telah mendapat penanganan medis. Air kotor telah terlalu banyak mengisi perutnya.

Tiap tahun media menyuguhi kita berita duka banjir. Rumah papan hanyut tanpa sisa. Orang hilang dibawa arus. Nyawa melayang disapu air. Tangis pilu kehilangan orang yang dikasihi.

Banjir adalah bencana alam yang niscaya. Tapi, kita bisa meminimalisir dampaknya.

Penyebab banjir memang kompleks. Faktor alam biarlah menjadi hak prerogatif alam semesta. Tapi faktor manusia bisa diminimalkan.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal paling sederhana. Meski begitu, kesadaran itu belum merata di kita.

Akuilah.

Di jalan raya, ada orang dari dalam mobil yang membuka kaca lalu melempar bungkus chitato ke jalanan.

Di parkiran atau halaman supermarket, ada orang memasukkan uang kembalian ke dompet dan membuang struk belanjaan sembarangan.

Di angkot, ada orang membuang puntung rokok dari jendela kaca atau pintu begitu saja.

Di gereja, permen karet yang sudah tak berasa ditempel di bawah kursi dan bungkusnya dibuang di lantai.

Di lapangan, bungkus plastik bertebaran.

Dua tahun lalu aku ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk pekerjaan kantor. Di sana aku pergi ke rumah salah seorang teman. Di jalan Uray Bawadi, Pontianak Kota.

Meski masih berada di sekitaran pusat kota, kompleks perumahan itu tampak kumuh. Air selokan di depan rumah sejajar dengan teras. Tidak mengalir. Warnanya hitam berlumut bercampur plastik-plastik kecil, seperti bungkus permen. Air menggenangi tengah-tengah jalan yang tidak rata.

Aku sempat protes kepada temanku itu. Kenapa mereka tidak gotong royong membersihkan selokan dan membuang sampah pada tempatnya? Aku tidak habis pikir bagaimana penghuni rumah membuka pintu melihat air selokan sama tingginya dengan keramik teras.

Tahun 2013 lalu, beberapa titik sentral Jakarta lumpuh karena banjir. Bundaran Hotel Indonesia berubah jadi ‘lautan’. Menurut hasil simulasi peneliti Indonesia, Abdul Muhari dan tim di International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS), Tohoku University, salah satu penyebab banjir itu adalah penumpukan sampah. Tumpukan sampah itu menutup tiga dari empat pintu air di Karet.

Bagaimana banjir tidak gampang terjadi atau semakin parah jika aliran air tersumbat? Benda-benda yang dibuang sembarangan akan bersatu. Apakah di selokan, sungai, atau laut.

Padahal, bungkus chitato bisa ditaruh dulu di dalam mobil sebelum tiba di tempat tujuan dan membuangnya di bak sampah. Struk belanjaan juga bisa langsung dibuang di tong sampah supermarket. Atau kantongi dulu kalau sudah sempat jauh dari tong sampah. Puntung rokok pun bisa dipegang dulu atau taruh di bungkus rokok sebelum ketemu tempat pembuangan. Apalagi cuma bungkus permen? Kantongi saja dulu.

Kalau hanya belanja pepsodent di alfamart tak usahlah pakai plastik. Taruh saja di kantong, atau jok motor, atau laci mobil. Apalagi kalau anak kos yang jarak alfamart ke kosan cuma secuil, dipegang pun tak apa. Lebih baik lagi menyiapkan tas belanja di dalam mobil atau jok motor.

Sesederhana itu.

Kita mulai dari diri sendiri. Pemerintah memang harus menata wilayah. Mengeruk aliran sungai. Membangun waduk. Mengelola daerah aliran sungai. Memberi izin pendirian bangunan hanya bagi mereka yang memenuhi analisis dampak lingkungan.

Tapi, sembari pemerintah bekerja. Atau sembari kita menuntut pemerintah bekerja, kita mulai dari diri kita. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan. Mudah-mudahan cerita Nenek Nurjannah Djalil tidak terulang. 

Mulailah bijak terhadap alam. Mulailah dengan tidak membuang sampah sembarangan. 

Tulisan ini sudah tayang di Martinrambe






6 Tips Cegah Asam Lambung pada Malam Hari

17 jam lalu

6 Tips Cegah Asam Lambung pada Malam Hari

Lakukan beberapa hal berikut untuk menghentikan asam lambung pada malam hari.


Bangun Penyaringan Sampah di Kali Ciliwung, DKI Harus Izin Kementerian PUPR

4 hari lalu

Bangun Penyaringan Sampah di Kali Ciliwung, DKI Harus Izin Kementerian PUPR

DKI Jakarta bebaskan 33 bidang lahan untuk pembangunan penyaringan sampah di Kali Ciliwung segmen TB Simatupang. Kurangi beban Pintu Air Manggarai.


DKI Bangun Penyaringan Sampah Rp 195 Miliar, Anies Baswedan: Pertama Kali di Indonesia

4 hari lalu

DKI Bangun Penyaringan Sampah Rp 195 Miliar, Anies Baswedan: Pertama Kali di Indonesia

DKI Jakarta membangun penyaringan sampah agar sampah dari daerah penyangga tak bablas ke pintu air Manggarai. Mencegah banjir.


DKI Kerahkan 5 Ribu Orang untuk Kelola Fasilitas Penyaringan Sampah di Kali Ciliwung

4 hari lalu

DKI Kerahkan 5 Ribu Orang untuk Kelola Fasilitas Penyaringan Sampah di Kali Ciliwung

DKI Jakarta mengerahkan 5.000 petugas Penyedia Jasa Layanan Perorangan untuk pengelolaan fasilitas penyaringan sampah di Kali Ciliwung.


Menhub Targetkan Kereta Barang dari KEK Sei Mangke-Kuala Tanjung Beroperasi Bulan Depan

4 hari lalu

Menhub Targetkan Kereta Barang dari KEK Sei Mangke-Kuala Tanjung Beroperasi Bulan Depan

Budi Karya menargetka kereta api barang dari Pelabuhan MultigunaCe KEK Sei Mangkei bisa dioperasikan mulai pada bulan depan.


Terpopuler Bisnis: Pesangon Karyawan Indosat Rp 4,3 M, Sampah Ditukar dengan Voucher Belanja Sejuta

5 hari lalu

Terpopuler Bisnis: Pesangon Karyawan Indosat Rp 4,3 M, Sampah Ditukar dengan Voucher Belanja Sejuta

Berita terpopuler ekonomi dan bisnis sepanjang Sabtu kemarin dimulai dari PHK 300 lebih karyawan Indosat Ooredoo Hutchison


Great Sale Bandung, Bisa Tukar Sampah dengan Voucher Diskon Belanja hingga Rp 1 Juta

6 hari lalu

Great Sale Bandung, Bisa Tukar Sampah dengan Voucher Diskon Belanja hingga Rp 1 Juta

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung membuka stand bank sampah.


DKI Rampung Bangun Saringan Sampah Kali Ciliwung di Pasar Rebo, Kurangi Beban Pintu Air Manggarai

7 hari lalu

DKI Rampung Bangun Saringan Sampah Kali Ciliwung di Pasar Rebo, Kurangi Beban Pintu Air Manggarai

Pemprov DKI membangun saringan sampah Kali Ciliwung di Pasar Rebo-Jagakarsa. Kurangi beban Pintu Air Manggarai.


World Cleanup Day Indonesia Dorong Kolaborasi untuk Pengurangan Sampah

9 hari lalu

World Cleanup Day Indonesia Dorong Kolaborasi untuk Pengurangan Sampah

Gerakan World Cleanup Day Indonesia tergabung di antara 191 negara yang merayakan hari bersih-bersih sedunia pada tahun ini.


Tak Sekadar Kampung Wisata, Desa Panggungharjo Bantul Garap Layanan Sampah Digital

10 hari lalu

Tak Sekadar Kampung Wisata, Desa Panggungharjo Bantul Garap Layanan Sampah Digital

Dari layanan sampah secara digital, masyarakat, termasuk wisatawan yang sedang berkunjung ke Yogyakarta bisa bertanggung jawab terhadap sampahnya.