Sabtu, 15 Desember 2018

Perjalanan Faza Meonk, Kreator Si Juki yang Lincah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faza Meonk. Istimewa

    Faza Meonk. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Gue mau cerita nih tentang salah satu teman gue, Si Kucing Liar. Nama bekennya sebagai kreator di dunia kreatif lokal, Faza Meonk. Pertama denger Faza Meonk, si kreator Si Juki kesel gue. Berasa apaan sih, namanya alay gitu. Tapi karena sekarang temenan, yaudah jadi lucu-lucu aja (apaan nih gak objektif gitu gue). Cuma memang nih anak sih gila. Lebih muda dari gue tapi cemerlang banget. Gue emang gak percaya hukum kalo cuma bisa belajar dari yang lebih tua. Kita bisa belajar dari siapapun. Dan dari Faza, gue banyak belajar.

    Dari dulu Faza didukung nyokapnya untuk mendalami animasi, komik ataupun apapun ilmu yang dia mau. Butuh alat atau bahan gambar, pasti dibeliin. Tapi yokapnya mengharuskan Faza hobi membaca karena katanya kalau membaca, wawasannya luas. Atas dasar itu, dari umur 5 tahun, Faza dibanjiri buku oleh Nyokap, termasuk komik. Dan dari situ dia jadi suka menggambar.

    Dari SD Faza sudah membuat komik di sekolah, difotokopi dan dijual di sekolah. Tarikan garis dan karakternya waktu itu diinspirasi dari Doraemon dan Dragon Ball. 20 halaman seukuran a5 dijual @500 rupiah. Komiknya diborong sama temen sekelasnya. Abis itu jadi tajir, jajan di kantin.

    Akhirnya waktu SMP, selama 2 tahun setiap hari Jumat Faza kursus komik di Machiko Manga School (Kemang). Untuk SMA, dibandingkan sekolah umum, Nyokapnya merekomendasikan Faza untuk masuk ke SMK Animasi. Deal. Faza masuk ke SMK Cakra Buana yang merupakan salah 1 generasi pertama SMK berjurusan Animasi di Indonesia, berlokasi di Depok. Faza masuk sebagai angkatan ke-4.

    Waktu itu Faza passionate banget. Yang belom diajarin gurunya di SMK, dia udah bisa duluan karena dia cari resource sendiri dari banyak buku (waktu itu internet belum booming). Dia merasa kalau menunggu ajaran guru di sekolahnya, hasratnya gak terpuaskan.

    Akhirnya di SMK, Faza sering diikutkan dan menang dalam lomba animasi tingkat nasional. Dia melihat billboard besar yang kontennya berisi dia menang lomba. Gara-gara beginian, Faza jadi percaya diri dan ingin menonjol.

    Waktu SD dan SMP, Faza kesulitan di mata pelajaran eksak (seperti manusia “otak kanan” pada umumnya). Yang ada di marahin kalau gambar-gambar melulu di sekolah. Ketika di SMK animasi dan Faza menjadi sangat menonjol, “dianggap SOMEBODY”, diapresiasi dan di dukung di sekolahnya, dia menjadi bahagia. Akibatnya di sana dia mengerjakan apapun dengan senang, bahkan untuk mata pelajaran eksak. Karena senang, Faza jadi maksimal dan dapat nilai terbaik di Ujian Nasional. Ntap.

    Faza gak bisa diem anaknya, mungkin kebanyakan gula kayak gue. Selain memang banyak gaul lintas bidang, dia aktif banget di banyak komunitas. Karena nggak suka rokok, secara random ikut di sidang mahkamah konstitusi sebagai saksi RUU yg membahas tembakau. Doyannya main game, jadinya aktif berforum (tuker-tukeran cheat) dengan gamers lainnya di  komunitas Indogamers buatan Maxindo. Tau-tau udah jadi moderator.

    SMK kelas 2 pun Faza mulai banyak mengerjakan project freelance. Pada masa itu, beberapa job didapat dari Nyokapnya, karena ketika network Nyokapnya Faza memiliki kebutuhan animasi, akan ada statement, “anak gue bisa bikin kayak gitu."

    Faza sudah terlalu nyaman bekerja dan tidak ingin kuliah tetapi nyokapnya meminta dia untuk kuliah. Bukan untuk mengejar teknis skill, tetapi network yang lebih luas. Akhirnya si Kucing Liar ini menjadi mahasiswa dari satu-satunya Universitas yang di tahun 2009 memiliki jurusan animasi serta bisa mendapatkan ijazah S1, yaitu Bina Nusantara. Kenapa harus S1, karena Nyokapnya yang mau dia dapet ijazah.

    Seperti biasa Faza sangat ambisius. Tapi kok mahasiswa di sekeliling dia pada selow gitu. Kuliah pulang kuliah pulang. Buat nyindir teman-temannya, tahun 2010 Faza membuat komik DKV 4. Komiknya dibuat bercerita tentang mahasiswa desain grafis dengan target market mahasiswa desain juga. Komik DKV 4 dishare di Facebook, blog pribadi dan Kaskus. Tapi nih gambarnya sih bener-bener gak niat ye, pedes mata gue.

    Karena dia ngerjain projek animasi aja penghasilannya memang “lumayan banget”, jadinya dia berpikir, bahkan mending menjadi desainer grafis daripada ngomik yang “nggak ada duitnya”. Tapi melihat insight bahwa pasar untuk komik di Indonesia cukup besar dan ada harapan, Faza memutuskan kembali aktif ngomik.

    Pada 2011, Faza membawa naskah komik berjudul Komik Ngampus!!! Buka-bukaan Aib Mahasiswa, dengan cerita yang lebih general dari sebelumnya. Buku ini menggambarkan tentang mahasiswa (nggak cuma jurusan desain) dan ditawarkan kepada 4 penerbit. Sebenarnya ke-4 penerbit itu menerima naskah komik ini tapi pilihan Faza jatuh ke Penerbit Bukune yang saat itu nggak umum untuk dunia komik. Bukune banyak menerbitkan buku beraliran pelit (personal literatur) yang laku di pasaran, termasuk buku karya Raditya Dika. Pertimbangannya adalah, gimana biar komiknya bisa laku di pasaran, nggak cuma ramai di kalangan pecinta komik niche aja.

    Faza diperkenalkan ke dunia Twitter oleh Syafial Rustama (Fial), editornya, dan dari sana jaringan networknya bertambah. Menariknya adalah, banyak diantara seleb Tweet ternyata orang dari berbagai background seperti dari media, agency, dst.

    Si kucing liar ini selalu aja gaul lintas bidang. Dia ngerasa, nggak boleh main cuma sama orang dari kaum yang sama atau bidang yang sama. Ujung-ujungnya semua bukan cuma soal skill menggambar saja, tapi bagaimana kita mengembangkan skill yang lain seperti networking, managemen project dst. Gambarnya jelek, tapi akhirnya Faza semakin populer. Dia mendapatkan banyak point of view dari berbagai background, wawasan semakin luas dan semakin open minded. Nggak gampang baper. Dia bisa mengerti sikap orang yang berbeda-beda diakibatkan background yang berbeda juga. Dari wawasan yang semakin luas, jadi semakin kreatif waktu mencari problem solving. Idenya tumpe-tumpe. Kalo ngeliat orang yang hebat, daripada iri dan nyinyir, mending digaulin dan dipelajarin.

    Dari networknya yang semakin luas, kesempatan dan project berdatangan sampai tumpe-tumpe. Karena nggak semua bisa dia terima, biasanya yang diterima itu project yang memang dari referensi teman, karena “nggak enak nolak.” Nama Faza semakin naik di dunia perfreelance-nan.

    Duit ngalir, dapur ngebul. Tapi mau sampai kapan kayak gini? Padahal sejak SMP, Faza selalu punya kegelisahan. Kalau dulu kita memiliki karakter fiksi populer seperti Si Unyil, si Komo, namun tidak ada regenerasinya. Waktu itu Indonesia tidak memiliki karakter fiksi populer yang benar-benar dicintai masyarakat.

    Sambil terus freelance di tahun 2012, dengan dorongan Fial, Faza akhirnya menyeriusin karakter Si Juki (bahasanya “diseriusin”, emangnya mau dikawinin?) karena karakter ini banyak yang suka. Menurut Fial walau hasil penjualan komik Ngampus tidak sesuai target, tapi Si Juki potensinya besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Kali ini pasarnya yang tidak hanya diperuntukan untuk mahasiswa saja.

    Sejak itu Faza mencari tau (mungkin cone di atas kepalanya bisa membantu dia berpikir) secara autodidak, dengan mencari data di internet dan berasumsi sendiri, bagaimana dahulu kala karakter Doraemon bisa berkembang? Bagaimana Marvel Comic berkembang? Kesimpulannya adalah ini semua bisnis lisensi. Semua aset yang mau digunakan harus meminta izin author/ pemilik lisensi. Dengan inshigt tersebut, dia nggak boleh konsentrasi cuma di dunia komik. Tapi bagaimana iklim industri kreatif bisa didevelope sehingga seperti di Jepang dan Amerika misalnya. Kalau mereka bisa, Indonesia juga harus bisa!

    dak seperti komikus Indonesia pada umumnya, Faza membuat roadmap untuk karakter buatannya. Seluruh planning Juki ke depan, model bisnisnya apa aja. Kalau penggemar Juki udah sekian, Juki harus achieve apa gitu. Waktu sudah sampai tahap apa, Juki harus melangkah bagaimana gitu. Tahun berapa sudah harus punya produk merchandise. Dst.

    Faza memandang proses mendevelope Si Juki sebagai bisnis yang serius. Seperti bisnis pada umumnya, membangun Si Juki butuh modal. Karena nggak dengan modal uang, Faza invest waktu di tengah kesibukan load project freelancenya untuk mengerjakan juga mengeluarkan konten untuk social media dan thread Kaskus, gratis, berupa komik Si Juki selama setahun. Konten dikeluarkan dengan konsisten!

    23 Desember 2013. Berawal dari kenal dengan Danang dan Darto yang merupakan host dari program The Comment ketika Faza bekerja di Prambors(2012-2013 jadi pegawai yang nggak harus kerja di kantor). Danang dan Darto mengajak Faza untuk menghandle semua kebutuhan visual untuk Konser Trio Lestari. Di atas adalah dokumentasi makan-makan bareng team kreatif project tersebut. Lumayan lah dari semua project freelance Faza, bisa untuk operasional hidup sambil bikin konten Juki.

    Makin banyak konten, makin banyak fans lah Si Juki. 1 hari ada anak yang demen banget sama duit, Charles Johannes Siagian yang tau Faza sebagai sesama aktivis Indogamers. Charles mengirimkan chat melalui Yahoo Messanger, “Za, gimana kalau si Juki kita duitin aja? Gue bikinin merchandisenya, lo gue kasih royalti.” Ya Faza mau aja. Akhirnya mereka dengan sistem bagi hasil, merchandise Si Juki mulai dijual di social media Si Juki.

    Rasanya si Juki perlu nih dibikin websitenya. Faza cari tau gimana cara bikin website, dan voila, lahir sijuki.com yang didevelope sendiri, simple, pake WordPress. Segala hal yang dibingungin ketika mendevelope web Juki, Faza pasti nanya sama pengusaha EO yang juga mahasiswa IT Binus. Namanya Dimaz Prasetya.

    Segala hal lancar dan berkembang. Tapi lelah hidup sendiri, akhirnya Faza ngumpulin Dimaz dan Charles yang memang shenang sama Si Juki, share mimpi dan rencananya untuk Juki dan mengajak mereka jadi team sakses (bukan typo kok emang gue sengajak nulisnya sakses) Juki lewat role masing-masing. Faza merasa Charles dan Dimaz bisa mengisi kekurangan dia dalam berbagai hal. Akhirnya mereka jadi 1 geng, tanpa duit-duitan dulu. Juki makin sakses, akhirnya ada sistem gaji. Team sakses makin bertambah.

    Kebutuhan social media dan website memaksa untuk mencari copywritter. Faza nyemplung ke komunitas blogger lokal, toel “kepala”nya, lalu meminta rekomendasi penulis yang bagus, dikontak satu persatu, akhirnya ngerekrut beberapa penulis termasuk si Yahya Muhaimin (Mamon) juga untuk menjadi team sakses. Juki cuma dengan bilang, “gue yang bikin Si Juki. Lu mau nggak kontribusi?” Sombong abis tapi gapapa. Ternyata waktu jadi team sakses yang berstatus volunteer, Mamon kreatif dan kece badai, ditariklah ke team inti daripada bengong doang di Pontianak. Makin sibuk di Juki, tahun 2013 Faza resign dari Prambors agar lebih fokus di Juki.

    Artikel ini sudah tayang di johanakusnadi.com


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.