Minggu, 16 Desember 2018

Belajar dari 9 Kebiasaan Positif Penduduk Jepang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang membawa kuil portabel, Mikoshi, di Kuil Senso-ji selama festival Sanja di distrik Asakusa di Tokyo, Jepang, 20 Mei 2018. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Orang-orang membawa kuil portabel, Mikoshi, di Kuil Senso-ji selama festival Sanja di distrik Asakusa di Tokyo, Jepang, 20 Mei 2018. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak pelajaran berharga yang saya ambil dari mengamati kebiasaan penduduk Jepang. Karakter warga di salah satu negara maju di Asia ini memang patut kita tiru. Berikut ini sembilan karakter orang Jepang yang membuat saya terpukau.

    Pertama, pekerja keras. Mereka bekerja di atas delapan jam. Bahkan, saat libur, mereka masih melakukannya. Ini bukan soal jumlah jam kerjanya saja, tapi juga produktivitas dan efisiensi yang memang luar biasa.

    Kedua, segalanya serba cepat. Jalan kaki cepat, makan juga cepat. Bahkan tidak sempat untuk duduk. Jangan heran, banyak restoran pinggir jalan yang hanya menyediakan meja panjang tanpa kursi. Namun, kalau makan-minum sambil jalan, itu perbuatan tidak sopan. 

    Ketiga, budaya antre yang luar biasa. Jumlah penduduk di Kota Tokyo saja bisa mencapai 35 juta. Mau melakukan aktivitas apa pun, mereka pasti antre. Tidak ada satu pun orang yang berani masuk antrean sembarangan. Kalau ada yang seperti itu, mungkin bukan orang Jepang. Malu, dong.

    Keempat, enggak enakan. Kalau kalian melakukan kesalahan, mereka pasti mengingatkan secara halus. Lalu diikuti dengan wajah penuh senyuman sambil menyilangkan tangan di dada, tanda mengingatkan. Tidak ada yang menggelengkan kepala atau menegur dengan berteriak. Sungguh sangat ramah kepada wisatawan.

    Kelima, mandiri. Semua serba sendiri. Mereka paling anti menggantungkan diri kepada orang lain. Apalagi soal keuangan. Ini sudah diajarkan sejak dini. Biasanya, murid-murid di Jepang sudah bisa mencari uang saku sendiri dan malu meminta kepada orang tua. Dalam kondisi darurat, mereka akan meminjam dan berjanji akan mengembalikannya.

    Keenam, tidak suka membuang waktu. Mereka anti dengan kegiatan nongkrong berjam-jam dan membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Di hampir semua restoran dan kafe, tidak tersedia terminal untuk mengisi baterai ponsel karena tempat makan memang hanya untuk makan.

    Ketujuh, hidup hemat. Mereka hampir tidak pernah terlihat membawa banyak barang saat berjalan kaki meski sedang berada di shopping center. Juga tidak ada yang membawa barang di kereta atau transportasi umum. Mereka hanya berbelanja kebutuhan yang diperlukan. Kalau belanja banyak, sudah pasti mereka menggunakan kendaraan pribadi atau taksi karena takut mengganggu penumpang lain di transportasi umum.

    Kedelapan, ramah dan ikhlas kepada semua orang. Di balik serius dan dinginnya mereka saat ditemui di jalan, orang Jepang bisa menjadi hangat kalau sudah kita sapa. Jika kita minta bantuan pun pasti ditolong. Mereka tidak segan menolong orang yang tidak dikenal jika memiliki waktu luang.

    Kesembilan, sopan dalam berperilaku. Kalau kita salah, mereka akan menegur dengan sangat sopan. Dalam beberapa kejadian, justru mereka mengucapkan maaf walau kita yang melakukan kesalahan. Kalau mereka salah, pasti meminta maaf berulang kali hingga membungkukkan badan.

    Artikel ini telah terbit di katawijaya.blogspot.com.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".