Rabu, 26 September 2018

Peran Ayah Bantu Bentuk Sikap Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ayah dan anak. Shutterstock

    Ilustrasi ayah dan anak. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Suka melihat adegan anaknya sahabat sulit bersosialisasi atau takut bertemu dengan orang baru? Apa saja yang membuat si anak makin minder dan apa yang harus dilakukan kita sebagai orangtua?

    Kumpul bersama sahabat di waktu-waktu senggang sudah menjadi jadwal rutin buat sebagian orang. Reuni semacam ini bisa menjadi obat penghilang stres seperti saya yang sudah dua tahun belakangan ini berhenti bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

    Pertemuan dengan sahabat kali ini sempet diwarnai drama teman saya dengan anak laki-lakinya yang berusia 3,5 tahun. Kami yang melihat adegan itu tentu saja kebingungan, koq bisa hanya bertemu dengan orang baru si anak langsung menangis kencang tanpa alasan yang jelas. Saat saya coba tanya, apa memang ia selalu begitu saat bertemu dengan orang baru?

    Memang, teman saya ini belum pernah membawa anaknya saat kami berkumpul dengan alasan akan terjadi drama seperti ini. Eh benar saja, teman saya lantas menjelaskan kalo anaknya bertemu dengan orang baru pasti akan bertingkah seperti ini. Dibujuk untuk duduk manis saja tidak mau apalagi berlama-lama dengan kami.

    Ucapan yang pertama kali ia lontarkan adalah ‘pulang’, sambil nangis jejeritan menarik tangan ibunya. Tentu saja adegan yang berlangsung setengah jam itu bikin suasana makin riweh, semua orang yang sedang makan di restoran tempat kami bertemu langsung melihat ke arah kami.

    Teman saya akhirnya izin pulang lantaran anaknya susah dibujuk. Obrolan dengan yang lain tentu saja jalan terus, tapi topik utama beralih kepada peristiwa yang baru saja kami lihat. Ada beberapa pendapat teman saya yang bisa dibenarkan, salah satunya kurang perannya seorang ayah untuk memberi tahu si anak. Suami teman saya ini kerap meninggalkan keluarga untuk dinas ke luar daerah, dan kembali ke rumah setelah 2 bulan berikutnya. Begitu terus hingga saat ini. Sepertinya itu awal yang menjadi penyebab si anak begitu manja terhadap ibunya.

    Keterlibatan Ayah Begitu Penting

    Jika melihat pekerjaan  suami sahabat saya, ya pantas saja sang istri lah yang lebih banyak mengambil peran. Sehingga si anak dengan mudahnya memanipulasi sang ibu untuk mengikuti apa pun yang ia mau. Jika menilik masalah di atas wajar saja si anak jadi drama queen saat berhadapan dengan orang baru, karena setiap hari melakukan aktivitas apapun bersama dengan ibunya.

    Saat ada orang lain yang ingin bersama-sama dengan mereka itu membuat anak merasa tidak aman dan ingin segera pergi. Karena itu, di sinilah sebenarnya peran ayah sangat dibutuhkan, saat istri sudah sangat kelelahan dengan rutinitas rumah tangga yang tidak ada habisnya, biasanya saat diajak bermain dengan anak itu hanya sekadarnya saja, tidak benar-benar terlibat. Bukan karena tidak mau bermain dengan anak tapi memang karena sudah begitu kelelahan dari pagi hingga malam mengurus rumah.

    Mulailah peran ayah di sini sangat membantu. Itu akan membuat si anak mendapatkan bonding kedekatan dengan sang ayah lebih dalam. Itu juga yang membuat rasa percaya diri si anak pelan-pelan membaik. Karena memang tidak bisa dipungkiri peran ayah itu begitu mempengaruhi kehidupan sosial si anak, seperti saat bersosialisasi dengan lingkungan baru di sekolah,  melatih kemandirian, dan bagaimana mengatasi masalah dengan teman seusianya.

    Sikap Tegas

    Saat keadaan memaksa suami harus bertugas ke luar kota, peran istri tidak sebagai pola asuh saja tapi juga membantu agar peran ayah dapat berhasil di mata si anak. Ajaklah anak bermain yang tidak menguras tenaga, misalnya dengan meminta anak mewarnai atau membuat prakarya. Jika si anak tidak terbiasa duduk manis saat bermain, mulailah bersikap tegas dengan memberinya penjelasan, sehingga kemauan si anak tidak selalu kita turuti, hal ini membantunya saat berada di luar rumah.

    Sikap ibu yang tidak tegas dan menuruti apa pun kemauannya akan menjadi senjata ampuh saat si anak mulai merengek dan meminta sesuatu. Kecenderungan ibu yang bersikap tegas tentu saja membuat anak akan lebih berkompromi dengan situasi yang ada.

    Sering Mengobrol dari Hati ke Hati

    Kedekatan dengan anak dapat kita latih dengan seringnya kita mengajak ngobrol dari hati ke hati. Misalnya sikapnya yang suka mengajak pulang saat harus bertemu dengan teman-teman ibunya, kita dengan santai bisa memberinya penjelasan, apa yang dilakukannya itu tidak baik dan tidak boleh diteruskan. Memberi pengertian di sini jangan lupa disertakan contoh ya mom, biar anak juga dapat menganalisanya sendiri. Begitu terus saat kita orangtua menghadapi tingkah pola anak yang di luar kendali kita, memberinya pengertian dan mengajaknya bercerita mengapa hal tersebut bisa terjadi.

    Lakukan Kesepakatan

    Nah, ini adalah hal yang biasa saya lakukan saat mengajak si kecil keluar rumah dan tahu kebiasaannya. Lakukan kesepakatan dengan dirinya, jika sampai hal itu terjadi sebaiknya bagaimana dan mengatasinya. Berikan pilihan-pilihan yang sekiranya mampu ia lakukan. Paling tidak, tidak akan membuat kita orangtuanya kebingungan saat menghadapi sikapnya.

    Kalau sudah begini, pasti dong ya kita gak akan kehilangan momen ngobrol-ngobrol santai bareng sahabat!

    Artikel ini sudah tayang di Titiwening


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.