Kamis, 16 Agustus 2018

Workation ke Kota Pekanbaru, Enaknya Kemana Saja?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perpustakaan Daerah Riau Soeman HS

    Perpustakaan Daerah Riau Soeman HS

    TEMPO.CO, Jakarta -

    Hello....

    Well... saya ingin menuliskan perjalanan saya ke Kota Pekanbaru, Riau. Ini merupakan perjalanan pertama saya ke daerah Sumatra. Perjalanan kali ini dalam rangka kerja disambi liburan, makanya saya kasih judul workation atau work and vacation.

    Perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru sekitar 1 jam 45 menit, tapi pada kenyataanya hanya 1 jam 15 menit.  Karena satu dan lain hal, salah satu partner kerja saya terlambat sampai di bandara. Untung aja Citilink bisa self check in, jadi saya bisa membantunya untuk check in. Alhasil, serba terburu-buru lah kami. Jadwal take off jam  05.25, dan jam 5 itu kami belum masuk boarding lounge.

    Panik, deg-degan, keringat dingin, semua campur jadi satu, tapi saya tetap berusaha menenangkan diri, dan akhirnya ini menjadi pengalaman pertama (semoga juga yang terakhir), dipanggil melalui speaker oleh petugas bandara karena pesawatnya sudah mau lepas landas. Dalam hati, saya sempat berucap 'oh gini rasanya'.

    Kesan pertama saat mendarat di Bandara Sultan Syarief Hasim II adalah  cukup bagus, walau tidak terlalu luas.  Sesampainya di Pekanbaru, kami dijemput oleh sopir dari Humas Pemprov Riau - thanks to Pak Yamin yang sudah baik banget mengantar tim rempong ini kemana-mana.

    Tujuan pertama adalah sarapan. Kami dibawa ke kedai kopi 328, jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara.

    Begitu sampai, suasana di warung kopi ini cukup ramai, terlihat beberapa pegawai pemerintahan sedang menikmati sarapannya. Setelah memilih tempat duduk, kami pun memesan menu. Oya, jangan minta buku menu di sini, karena tampaknya di sini semua pengunjung sudah hapal menu yang ada apa saja.

    Lalu bagaimana untuk yang baru pertama kali ke sini? Tenang, tidak usah khawatir, di dinding terpampang foto menu apa saja yang tersedia, mulai dari mie ayam, bubur ayam, pempek, hingga lontong sayur.

    Saya sendiri sebagai pecinta bubur ayam, sudah jelas memilih bubur ayam. Untuk rasa, saya bisa bilang walaupun agak beda dengan bubur ayam yang biasa saya makan di Jakarta, tetapi yang ini juga enak. Saya kasih skor 8,5/10. Selain makanan yang berat, ada juga makanan ringan seperti kue lapis. Overall makanan di sini cukup enak, dan tempatnya juga cukup terkenal. 

     

    Setelah kenyang, kami menuju ke Gedung Daerah, Kantor Gubernur Riau. Oh ya, di kedai kopi tadi, kami bertemu dengan Pak Darusman, Kabiro Humas Pemprov Riau - yang di awal kesannya serius, tetapi semakin lama ngobrol, makin kelihatan bocornya, heheh.

    Jarak antara tempat tujuan satu dan yang lainnya di Kota Pekanbaru ini dekat-dekat, hanya butuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit. Ini mengingatkan saya akan kampung halaman saya di Balikpapan, yang dekat dari mana-mana, bahkan jalan kemanapun bisa bertemu dengan orang yang dikenal. Pekanbaru juga kota yang bersih, walau cuacanya cukup panas. Beruntung, saat kami datang cuaca hanya 32 derajat, sehari sebelumnya bahkan mencapi 35 derajat.

    Bangunan di kota ini juga cukup unik, kental dengan nuansa Melayu. Maka tidak mengherankan, jika Riau menjuluki dirinya sebagai The Homeland of Melayu. Hal ini terlihat pada kantor gubernur yang mencerminkan bangunan adat. Beda jauh dengan yang saya lihat di Jakarta, gedung-gedung yang dibangun standar bangunan tinggi modern, sementara kalau mau lihat yang bernuansa daerah paling banter RUMAH MAKAN PADANG .

    Entah kenapa melihat Pekanbaru, saya jadi teringat Malaysia. Sampai di sini saya jadi ingat salah satu kalimat yang tertulis di bukunya Pandji, yang bilang bahwa  ada banyak hal di Indoensia itu yang menarik, yang kurang hanyalah promosinya. Di buku itu Pandji mencontohkan Amerika. Amerika ini biasa-biasa saja sebenarnya, hanya mengemasnya yang luar biasa sehingga bisa dijual, sementara Indonesia itu luar biasa, tetapi mengemasnya biasa.

    Hal ini sejalan dengan yang saya temui saat ke Pekanbaru. Di mata saya, Pekanbaru ini luar biasa. Ada banyak yang bisa dijadikan bahan promosi untuk menarik wisatawan datang ke Pekanbaru, hanya saja yang perlu dipikirkan adalah promosinya. Promosi menjadi hal yang sangat penting. Hal ini juga sudah dipikirkan oleh Pemprov Riau, seperti yang diungkapkan oleh Kadispar Pemprov Riau, Bang Fahmi.

    Kalau boleh saran sih bang, please ketika promosi jangan seperti yang biasa dilakukan daerah-daerah di Indonesia pada umumnya, memajang foto kepala daerahnya :). Pasanglah foto daerah wisata yang membuat kami dari luar Riau ini tertarik untuk datang.

    Yang menarik juga adalah setiap hari Jumat di minggu pertama setiap bulannya, para pegawai pemerintahannya memakai baju daerah. Seperti yang terlihat di bawah ini


    Kekaguman saya tidak berhenti sampai disitu saja, sesampainya di kantor pemprov Riau, ada bangunan yang membuat saya bertanya-tanya gedung apa itu. Lokasinya persis di depan kantor pemprov Riau dan rasa penasaran saya terjawab bahwa gedung itu adalah Perpusda yang oleh pemerintah daerah di sana dinamakan Perpustakaan Soeman HS. Asli, gedungnya bagus banget. Untuk sebuah perpustakaan, gedung ini terbilang cukup besar.

    Bangunan ini terinspirasi dari dudukan Al Quran yang terbuat dari papan, filosofinya adalah Iqra : bacalah. Saya kagum sekaligus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah di sana, karena dengan adanya perpustakaan daerah seperti ini semoga saja budaya baca juga tinggi. Tapi, sayang ketika saya mau masuk melihat-lihat dan syukur-syukur bisa baca-baca di sana, perpustakaannya tutup, karena sedang salat Jumat. Jadi ya sudahlah saya hanya bisa foto bagian luarnya saja.

    Berkunjung ke daerah, tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kulinernya, maka pergilah kami makan siang ke salah satu tempat yang juga cukup terkenal : RM Pak Ndut yang menjual berbagai macam seafood. Lokasinya tidak jauh dari kantor Pemerintah Provinsi. Di sana kami mencicipi Pindang Patin Asam Manis, Ikan Baronang Bakar, Terong Rebus, Kangkung Cah Tauco dan tentunya yang tidak boleh ketinggalan adalah sambalnya yang pedas dan mantab banget, dan buat saya ini adalah surga.

    Malamnya, kembali kami diajak berkuliner lagi, kali ini oleh Pak Darusman yang mengajak makan malam di Pujasera 88. Menu yang kami pesan adalah kerang, sayuran - yang entah kenapa saya lupa, apa yang dipesan malam itu, kepiting, dan gonggong rebus. Untuk yang terakhir ini, cukup membuat penasaran ketika Pak Darusman dengan semangat memesan gonggong dan meminta kami untuk mencicipi. Maka saya pun tak sabar melihat seperti apa penampakan gonggong ini, lalu ketika gonggong datang dan disajikan di meja, penampakannya adalah seperti ini :

     

    Dan jujur ketika saya melihat, saya jadi ingat siput, saya coba mencicipi, cukup enak tapi ya sudah saya hanya mencicipi satu. Entah kenapa saya agak geli, mungkin karena teringat siput, atau mungkin karena belum terbiasa. Jadi saya lebih banyak makan kerang. Kerang rebus seperti ini, mengingatkan saya akan masa kecil, dulu almarhumah mbah (nenek) saya sering kali memasak kerang rebus seperti ini. Maka malam itu seperti terjadi reuni antara saya dan kerang - yang kalau di Balikpapan, kami lebih sering menyebutnya tude. Dan malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan mata yang ngantuk



    Hari Kedua
    Pagi jam 8, kami dijemput Pak Darusman di hotel, dan diajak untuk sarapan di kedai kopi Kimteng. Saya suka suasana di kedai kopi ini, terasa penuh keakraban, orang-orang datang berkelompok, mungkin dengan keluarga atau teman. Menu yang bisa dipesan di sini antara lain roti selai sri kaya, mie ikan, mie seafood bihun, sop seafood, bubur ayam, lontong.

    Siang hari, setelah saya selesai menghadiri seminar, kami diajak lagi oleh Pak Darusman ke Pasar Bawah. Kalau di Jakarta, pasar bawah ini mirip dengan Pasar Asemka, dengan versi yang lebih kecil tentunya. Berbagai macam barang dan oleh-oleh dijual di sini, yang rata-rata barangnya didapat dari Tanah Abang. Hanya saja, kain tenun Riau yang tentunya asli dari sini. Sempatkanlah main kesini jika berkunjung ke Pekanbaru.

    Karena ini hari terakhir kami di Pekanbaru, dan masih ada serangkaian kegiatan yang harus kami lalui, maka di sela-sela jadwal yang serba mepet, setelah dari pasar baru, kami diajak mencari oleh-oleh di Megarasa, dekat tempat kami menginap, yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman. Banyak pilihan oleh-oleh yang bisa dibawa ke Jakarta. Salah satunya yang menjadi khas Pekanbaru adalah Bolu Kemojo dan aneka olahan durian. Oh ya, buat yang suka durian, pas banget kalau datang ke Pekanbaru, karena di sini gak kenal istilah musim durian, setiap hari sepanjang waktu, bisa menemukan durian, dan menurut informasi yang saya dengar, bahwa di depan Hotel Pangeran (Jl. Jenderal Sudirman), merupakan tempat jual durian yang cukup terkenal.

    Berkunjung dua hari ke Pekanbaru, Riau, memang tidak cukup, tetapi cukup buat saya untuk meniatkan kembali lagi ke sini, dan mengeksplore lebih jauh Pekanbaru dan sekitarnya.

    So....sampai ketemu di lain waktu Pekanbaru :)

    Tulisan ini sudah tayang di Theindira


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.