Mengintip Kesamaan Budaya Masyarakat Adat Suku Boti dengan Baduy

Suku Boti di Provinsi Nusa Tenggara Timur dikenal menolak modernisasi. Mereka mempertahankan adat istiadat dengan teguh.

TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat adat masih banyak yang mempertahankan tradisi mereka. Suku Baduy di Banten misalnya. Meski digempur modernisasi di sekitarnya, tanah adat di sana terlarang segala yang modern masuk mempengaruhi masyarakat adat setempat. 

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, aku juga menjumpai masyarakat adat yang menolak modernisasi. Mereka teguh mempertahankan tradisi mereka.  

Suku Boti. Ke sanalah aku hari ini. Tanpa rencana. Pertama kali mendengarnya dua tahun lalu waktu pertama kali ke Kupang. Singgah di salah satu toko kain tenun, tertarik dengan salah satu motif. Eh, ternyata motif itu dari Boti.

Konon katanya suku Boti adalah suku paling menolak modernisasi di Nusa Tenggara Timur. Lokasinya katanya sangat terpencil, dan belum dialiri listrik. Katanya mistis masih sangat kuat. Yang paling dipercayai semua orang: makanan akan tiba-tiba muncul apabila kita bertamu. Oh ya, satu lagi: katanya kalau siapa pun yang akan datang ke sana, Bapa Raja akan tahu siapa yang akan datang, berapa orang, apakah orang baik atau jahat, dan kapan akan datang.

Aku akan ceritakan apa yang terjadi tadi.

Pertama, lokasinya memang jauh. Berada di Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekitar hampir tiga jam dari Kota Soe, atau enam jam dari Kupang. Jalanan bukan terisolasi, tapi memang akses yang masih sangat buruk. Jalan masih batuan sertu dan tanah liat.

Kedua, suku Boti adalah penghayat kepercayaan Uis Neno Ma Uis Pah. Seperti Parmalim di Sumatera Utara, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, dan Marapu di Sumba.

Ketiga, lokasi Suku Boti tinggal belum dialiri listrik, kecuali genset yang ada di rumah Bapa Raja. Rumah Bapa Raja sendiri yang sudah berlantai keramik dan berdinding kayu. Masyarakat lainnya tinggal di Rumah Bulat, rumah adat di NTT. Selain listrik, masyarakat juga sudah memakai baju, dan bawahan adalah kain tenun. Mahal ya pakaian sehari-hari mereka 

Keempat, makanan dan minuman yang tiba-tiba muncul itu kayaknya fiksi. Tadi kami disuguhi kopi, jagung bunga (popcorn tradisional), dan pisang goreng (tanpa tepung ya!). Kopinya memang masih panas, tapi jagung bunga dan pisang sudah dingin. Artinya gak ada yang tiba-tiba muncul ya gaes! Ada banyak mama-mama yang menyediakannya.

Kelima, Bapa Raja (mungkin) tidak tahu kami akan datang. Karena kami awalnya memang tidak berencana ke sana. Juga Bapa Raja sedang tidak berada di rumah saat kami tiba.

Di luar itu semua, hal menariknya adalah mereka memang masih memegang teguh adat istiadat. Ada aturan yang tak tertulis, juga hal-hal yang tak bisa diperbincangkan bebas.

Misalnya, laki-laki tidak diperbolehkan memotong rambut. Kalau anak lebih dari dua, maka salah satunya tidak akan bersekolah untuk menghindari ilmu pengetahuan yang mengkontaminasi kebudayaan. Jumlah Bapa Raja sebelumnya yang diketahui hanya empat generasi, selebihnya tidak bisa dibahas. Ada loppo (pondok) yang khusus diperuntukkan bagi Bapa Raja. Suku Boti mengenal sembilan hari dalam seminggu, dan hari kesembilan adalah hari beristirahat.

Mari berkunjung ke Suku Boti!

Tulisan ini sudah tayang di Gustersihombing






KNPA dan Buruh Desak Hakim Bebaskan Masyarakat Adat Dayak Marjun

23 hari lalu

KNPA dan Buruh Desak Hakim Bebaskan Masyarakat Adat Dayak Marjun

Ada kejanggalan selama proses penyidkan hingga persidangan kasus konflik agraria antara masyarakat adat Dayak Marjun dengan perusahaan.


NasDem Dorong RUU Advokat hingga RUU Masyarakat Adat Masuk Prolegnas Prioritas 2023

28 hari lalu

NasDem Dorong RUU Advokat hingga RUU Masyarakat Adat Masuk Prolegnas Prioritas 2023

Fraksi NasDem merupakan pengusul RUU Advokat dalam Prolegnas jangka menengah 2020-2024.


Amnesty Indonesia Minta Kementerian ATR/BPN Tak Ganggu Tanah Ulayat Papua

54 hari lalu

Amnesty Indonesia Minta Kementerian ATR/BPN Tak Ganggu Tanah Ulayat Papua

Menteri ATR/BPN Hadi Tjahjanto telah menerima dengan baik keputusan MRP soal tanah ulayat di Papua


Dewan Adat Papua Tolak Pemekaran Papua, Bagaimana Terbentuknya DAP dan Siapa Anggotanya?

55 hari lalu

Dewan Adat Papua Tolak Pemekaran Papua, Bagaimana Terbentuknya DAP dan Siapa Anggotanya?

Dewan Adat Papua atau DAP menolak pemekaran papua, siapa itu DAP dan bagaimana sejarah terbentuknya?


Empat Cara Mengadopsi Anak, Ketahui Perbedaannya

28 Juli 2022

Empat Cara Mengadopsi Anak, Ketahui Perbedaannya

Mengadopsi anak dan calon orang tua angkat secara privat melalui permohonan surat pengangkatan anak dari instansi sosial provinsi.


Konflik Lahan Toba Pulp Lestari, Warga Simalungun Dikabarkan Bentrok dengan Polisi

18 Juli 2022

Konflik Lahan Toba Pulp Lestari, Warga Simalungun Dikabarkan Bentrok dengan Polisi

Bentrokan dikabarkan terjadi di Desa ihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Polisi membantahnya.


2.265 Sekolah di NTT Siap Terapkan Kurikulum Merdeka

11 Juli 2022

2.265 Sekolah di NTT Siap Terapkan Kurikulum Merdeka

Ribuansekolah di provinsi itu mendaftar secara mandiri sebagai sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka.


Kisah Masyarakat Mului di Kalimantan Timur, Jaga Hutan demi Lingkungan Sehat

26 Juni 2022

Kisah Masyarakat Mului di Kalimantan Timur, Jaga Hutan demi Lingkungan Sehat

Masyarakat Hukum Adat Mului menjaga keaslian hutan demi lingkungan yang sehat. Gaya hidup mereka yang sehat, membuat warga jarang ada yang sakit


MK Tolak Gugatan UU IKN yang Diajukan Busyro Muqoddas hingga WALHI

31 Mei 2022

MK Tolak Gugatan UU IKN yang Diajukan Busyro Muqoddas hingga WALHI

MK menolak gugatan atas UU IKN yang dilayangkan Busyro Muqoddas dkk. Alasan MK karena gugatan itu melewati tenggang waktu pengajuan permohonan.


Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, Bagaimana Cirinya?

9 Mei 2022

Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, Bagaimana Cirinya?

Sejumlah warga Baduy mengikuti tradisi Ritual Seba Baduy di Pendopo Gubernur Banten, di Serang, Sabtu 7 Mei 2022. Apa beda Baduy dalam dan Baduy luar?