Jangan Biarkan Si Dia Melakukan Kekerasan Verbal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kekerasan verbal. Shutterstock

    Kekerasan verbal. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Geni berteriak dengan suara keras, menghardik Bunga berulang kali hingga akhirnya menggebrak pintu kamar sampai pecah. Meski tidak tahan dengan segala teriakan dan makian itu, Bunga memilih duduk dalam diam, punggungnya menempel ke dinding, karena dia tahu menjawab makian Geni hanya akan membuat pria itu menghardik lebih keras lagi. Sudah berkali-kali kekerasan verbal itu terjadi.

    Meski sudah sekian tahun menikah, Bunga masih belum mengerti mengapa Geni mudah sekali meledak amarahnya, dan semakin sering terjadi belakangan ini. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa Bunga lakukan selain menunggu sampai amarah Geni reda sendiri. Sering kali Bunga terpaksa mengikuti kemauan Geni, semata demi menghindari kemarahannya. Hingga Geni melakukan hal yang tidak dapat Bunga toleransi lagi, dan memutuskan bahwa dia harus menolong dirinya sendiri.

    Hingga suatu hari Bunga membaca sebuah buku soal kekerasan verbal  ( verbal abuse) dan medapatkan wake up call yang sudah berdering nyaring.

    Verbal abuse by definition is harsh and insulting language directed at a person (Merriam-Webster). Harsh-and-insulting language alone is considered as verbal abuse. Not to mention the yelling and furniture smashing.

    Love and extreme anger cannot coexist together. When both are present, anger will always prevail leading to thoughts to get away from the angry person.

    Persis seperti itulah yang Bunga rasakan setiap kali menerima terpaan amarah yang meledak-ledak dari pasangannya. She just wanted to get away from the angry person. As soon as possible.

    Dalam kasus-kasus verbal abuse atau kekerasan verbal, kata-kata adalah instrumen untuk melukai dan mengintimidasi. Tidak perlu kekerasan fisik, namun tekanan yang ditimbulkan oleh caci-maki dan luapan kemarahan juga menimbulkan dampak yang sangat menyakitkan. Kekerasan verbal masuk dalam ragam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau Kekerasan dalam Pacaran. 

    Namun, berbeda dengan kekerasan fisik yang jejaknya terlihat kasat mata dan bisa dimintakan visum ke dokter, kekerasan verbal tidak langsung meninggalkan jejak yang kasat mata. Makanya sulit bagi penerima kekerasan verbal untuk mendapatkan visum sebagai bukti akan hal yang menimpanya.

    Saya menggunakan istilah ‘penerima kekerasan verbal’ bukan ‘korban’ karena tidak semua orang yang menerima perlakuan tersebut lantas rela menjadikan dirinya korban. Sebagian lalu bangkit dan mengupayakan berbagai cara untuk menghentikan dirinya menerima perlakuan tersebut, biasanya dengan melepaskan hubungan dengan pelakunya.

    Partners stay together when each contributes in a positive way to each other. When you are a source of pain to your partner, you are at risk for losing him or her.

    Kekerasan verbal tidak hanya terjadi dalam hubungan suami-istri atau kekasih. Bisa juga terjadi dalam konteks hubungan kerja, pertemanan atau orang tua dan anak. Kalau terjadi dalam konteks pekerjaan atau pertemanan, sudahlah, segera saja cari tempat kerja baru atau teman-teman baru. Namun tidak semudah itu melepaskan diri bila terjadi dalam hubungan keluarga inti, antara suami-istri atau orang tua-anak. Pembahasan kali ini fokus pada konteks kekerasan verbal yang terjadi dalam pasangan suami-istri atau kekasih.

    Banyak orang yang menghancurkan hubungannya melalui perkataan yang keluar dari mulutnya, one word at a time. Ini ibaratnya seperti membunuh dengan menyebabkan ribuan luka. Setiap kata dalam luapan amarah yang keluar, menyayatkan sebuah luka. Begitu seterusnya hingga kehabisan darah karena saking banyaknya luka. Ketika itulah sebuah hubungan sudah tidak dapat diselamatkan.

    The details of the actual conversation may be forgotten, but not the hurt and bruised feelings caused by extreme anger last for days, or weeks, or months, or years.

    Lalu apa saja yang bisa disebut kekerasan verbal? Bukankah setiap pasangan pasti pernah berantem? Iya benar, setiap hubungan pasti pernah mengalami konflik. Dalam situasi berantem, kedua belah pihak posisinya setara, tidak ada salah satu yang merasa terintimidasi. Lalu, adakah tanda-tanda kekerasan verbal agar bisa dikenali?

    Tanda-tanda Dan Gejala Kekerasan Verbal

    Dilihat dari perspektif penerima kekerasan verbal, yang disebut tanda-tanda kekerasan verbal adalah apa yang kita amati terhadap si pelaku, termasuk sikap dan perbuatan pelaku yang mempengaruhi emosi dan cara berpikir orang yang menerima perlakuan tersebut. Sementara gejala kekerasan verbal adalah apa yang terjadi pada penerima. Kadang gejala ini hanya penerimanya lah yang merasakan, tanpa terlihat oleh orang lain.

    Tanda-tanda Kekerasan Verbal

    Selain contoh luapan amarah ekstrim yang tertulis di awal artikel ini, tanda-tanda kekerasan verbal telah terjadi bila:

    • Pelaku mengeluarkan perkataan yang merendahkan penerima atau salah satu identitas si penerima (misalnya agamanya, etnisnya, pekerjaannya dan lain-lain)
    • Pelaku membuat komentar negatif, mengejek atau menghina pemikiran, sikap dan keyakinan penerima
    • Pelaku membahas dengan panjang lebar hal yang tidak disukai penerima hingga akhirnya si penerima menyerah semata agar tidak mendengar komentar sinis dari pelaku.
    • Pelaku mengeluarkan kata-kata yang mengandung ancaman.
    • Pelaku melarang penerima meninggalkan ruangan saat pelaku mengomel atau meluapkan amarahnya
    • Pelaku secara fisik menyudutkan penerima, misalnya membuat penerima terduduk, atau mepet ke dinding, sehingga tidak bisa beranjak saat pelaku mengeluarkan omelan.

    Gejala (Seseorang Telah Menerima) Kekerasan Verbal

    Banyak orang tidak menyadari dirinya telah menjadi sasaran kekerasan verbal. Sebagian orang bahkan menganggap lumrah bila salah satu pihak mengomeli pasangannya. Perlu waspada bila Anda:

    • Merasa gugup, cemas atau deg-degan bila pembicaraan mulai mengarah pada topik tertentu yang bisa memicu amarah pasangan
    • Merasa tersinggung bila pasangan mulai bicara dengan nada tinggi dan/atau menggunakan kata-kata kasar dan makian
    • Merasa tidak berdaya dan memilih diam karena menjawab amarah pasangan justru akan membuatnya lebih meledak-ledak
    • Merasa tidak tahan dan ingin berlari meninggalkan ruangan bila mana pasangan mulai mengeluarkan kata-kata tertentu
    • Merasa tidak dimengerti atau disalahartikan dalam berkomunikasi dengan pasangan
    • Mulai meragukan kewarasan atau tingkat intelegensi diri sendiri

    Akibat Kekerasan Verbal

    Bila seseorang menerima kekerasan verbal berulang kali dalam jangka waktu yang lama, beragam akibat bisa terjadi. Merasa tertekan (depressed) dan gelisah (anxious) adalah akibat yang paling umum. Selain itu penerima kekerasan verbal bisa:

    • Memiliki rasa percaya diri yang rendah, meragukan dirinya sendiri
    • Merasa ada yang salah dengan dirinya
    • Meragukan kemampuannya berkomunikasi
    • Kerap menyalahkan diri sendiri
    • Kehilangan spontanitas dan antusiasme dalam menjalani hubungan
    • Sulit membuat keputusan
    • Memiliki keyakinan semu, misalnya “Nanti dia akan berubah kok,” atau “Dia akan lebih baik setelah kita punya anak,” atau “Dia akan lebih baik kalau sudah dapat kerjaan tetap,”

    Kekerasan verbal yang terus-menerus dalam jangka panjang bisa jadi akan termanifestasi dalam bentuk sakit fisik, seperti sakit kepala, nyeri bahu, migren, gangguan pencernaan, konstipasi dan lain-lain.

    Setelah mencermati gejala dan tanda-tandanya, kok sepertinya familiar ya… Lalu bagaimana? Apa yang bisa saya lakukan bila saya sendiri, atau orang yang saya kenal baik menjadi penerima kekerasan verbal?

    Get help.

    Carilah bantuan dari orang-orang yang bisa dipercaya, misalnya keluarga, teman atau bila memungkinkan cari bantuan profesional seperti dari psikolog. Biasanya dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih erat hubungan keluarganya, orang tua atau orang yang dituakan dalam keluarga besar bisa diminta sebagai mediator. Bisa juga orang dalam lingkup pertemanan yang bisa diajak diskusi dengan kepala dingin. Yang jelas, cari bantuan, jangan dipendam sendiri karena berada dalam posisi penerima kekerasan verbal bisa membuat seseorang merasa seolah kehilangan kekuatannya dan cenderung membiarkan siklus itu terulang lagi.

    Salah satu lembaga yang bisa dihubungi antara lain:

    Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI , Depok. Tlp.021–78881150

    Di kota-kota besar di Indonesia biasanya sudah ada Klinik Psikologi, silakan googling. Good luck, and stay strong.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H