Olahraga di Udara Terbuka pada Malam Hari, Amankah?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di area luar stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 3 Maret 2018. Beberapa warga mengunjungi GBK pada malam hari atau berolahraga sambil menikmati lampu warna-warni di sekeliling stadion. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Suasana di area luar stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 3 Maret 2018. Beberapa warga mengunjungi GBK pada malam hari atau berolahraga sambil menikmati lampu warna-warni di sekeliling stadion. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebagai praktisi yoga, saya pernah ditanya oleh seorang pewarta media nasional tentang tren olahraga malam hari di atap bangunan alias rooftop. Memang saya amati ada komunitas-komunitas yang dengan sengaja membuat jadwal latihan fisik di malam hari. Tujuannya untuk mengakomodasi para pekerja kantoran usia produktif yang ingin tetap bisa berolahraga tetapi tidak sempat melakukannya di pagi hari.

    Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan bagi mereka yang ingin berolahraga di malam hari.

    1. Tidak Terlalu Dekat dengan Jam Tidur

    Hal pertama yang menurut saya perlu diperhatikan saat berolahraga di malam hari ialah usahakan untuk tidak melakukannya saat mendekati waktu tidur.

    ADVERTISEMENT

    Kenapa? Karena tubuh kita ini sudah memiliki irama sirkadian (irama alami kerja tubuh) yang diatur secara alami, dan ditandai dengan terbit dan tenggelamnya matahari. Manusia memiliki kecenderungan sebagai makhluk diurnal, bukan nocturnal. Artinya, manusia itu berkegiatan di pagi sampai petang hari dan begitu matahari sudah tenggelam, tubuh manusia melambatkan kinerjanya untuk fase istirahat yang diperlukan agar tetap bisa berfungsi baik. Karena itulah, manusia tidak bisa disamakan dengan kelelawar atau burung hantu yang nocturnal atau beraktivitas di malam hari.

    Saat kita berolahraga terlalu larut dan dekat dengan jam tidur, tubuh kita cenderung hangat dan adrenalin terpacu, sehingga bagi sebagian orang ini justru membuat mereka bersemangat, bukannya tertidur pulas pada malam harinya.

    Memang olahraga akan membuat tubuh melepaskan hormon endorfin sehingga membuat kita lebih rileks dan tertidur lebih pulas. Namun, patut diingat bahwa tidak semua orang merasakan efek yang sama. Ada yang mendapati efek overstimulasi sehingga tidur mereka justru terganggu. Ini yang pernah saya alami setelah saya beryoga dengan intens (banyak pose-pose inversi yang lumayan menguras tenaga) di malam hari. Alih-alih merasa rileks dan mengantuk, saya malah melek semalaman dan bersemangat. Jelas esoknya saya justru makin lemas karena kuantitas dan kualitas tidur berkurang. Tentu sekali lagi ini berpulang pada masing-masing individu. Jika Anda tipe orang yang seperti saya, hindarilah berolahraga terlalu malam (jam 8 malam ke atas).

    2. Tidak Terkena Angin Malam

    Satu poin penting lain yang menurut saya patut diperhatikan saat berolahraga di rooftop ialah memastikan apakah tempatnya terlindung dari angin malam. Berolahraga di tempat terbuka memang asyik karena udaranya lebih segar tetapi efek menyehatkan itu akan maksimal jika itu dilakukan di pagi hari. Sinar matahari membuat imunitas meningkat, tubuh mendapatkan asupan vitamin D, dan sirkulasi darah meningkat sehingga kita bersemangat menjalani aktivitas seharian. Kalaupun ada angin saat pagi hari, rasanya di badan juga menyegarkan karena angin ini bukan jenis angin malam.

    Lain halnya jika kita berolahraga di ruang terbuka di malam hari. Angin malam membuat mereka yang kebugarannya kurang malah makin rentan. Seperti kita ketahui bahwa tidak semua orang yang ikut tren olahraga di rooftop adalah mereka yang memiliki tingkat kebugaran yang sangat prima seperti atlet profesional. Ada kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga di malam hari agar olahraga itu tidak membuat kita malah sakit.

    Karena itulah, dalam yoga yang saya tekuni selama ini kurang disarankan untuk beryoga (melakukan latihan asana/ fisik yang berintensitas tinggi) di malam hari. Jikalau ingin beryoga di malam hari, disarankan untuk memilih jenis latihan yang bersifat Yin, atau restoratif, yang fokusnya berbeda. Jika latihan vinyasa atau power yoga berfokus lebih banyak pada penguatan otot dan peningkatan kekuatan kardiovaskuler. Latihan yoga jenis Yin akan memberikan kesempatan tubuh untuk rileks, meregangkan otot, sendi dan ligamen, mengendurkan syaraf serta condong pada meditasi agar alam bawah sadar lebih tenang dan istirahat lebih berkualitas.

    3. Jaga Intensitas

    Intensitas berlatih saat malam hari menurut saya lebih sulit dijaga karena suhu udara yang lebih rendah membuat kita memerlukan waktu lebih lama untuk pemanasan. Karena itu, pemanasan perlu dilakukan lebih intens untuk menghindari kram. Tubuh juga menjadi kurang peka terhadap intensitas karena suhu yang lebih sejuk. Kita pacu dan pacu terus sampai tiba-tiba terasa lelah sekali atau lemas. Lain halnya jika berolahraga di pagi hari yang menurut saya lebih ideal. Untuk itu, Anda bisa coba membandingkan efek olahraga di pagi dan malam hari. Bagaimana rasanya di tubuh?

    Tulisan ini sudah tayang di Akhlis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.