Minggu, 16 Desember 2018

A Man Called Ahok: Tentang Cinta dan Konflik Ayah - Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor Daniel Mananta, yang berperan sebagai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bersiap menyaksikan <i>teaser</i> film <i>A Man Called Ahok</i> di Jakarta, Kamis, 6 September 2018. Film ini disadur dari buku karangan Rudi Valinka dengan judul yang sama. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Aktor Daniel Mananta, yang berperan sebagai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bersiap menyaksikan teaser film A Man Called Ahok di Jakarta, Kamis, 6 September 2018. Film ini disadur dari buku karangan Rudi Valinka dengan judul yang sama. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Minggu lalu, saya ke bioskop sendirian buat nonton film A Man Called Ahok. Padahal deadline kerjaan di depan mata, dan sorenya udah ada janji meeting sama partner kerja, tapi pokoknya harus nonton. Jadi jam 12 siang saya sudah duduk cantik di lobby bioskop di Blok M Square, barometernya film Indonesia. Tsah!

    Kenapa saya bela-belain nonton di hari pertama? Soalnya saya penasaran banget sama film ini. Dari pada cuma denger omongan orang tentang film ini, lebih baik saya tonton di bioskop dan buktikan sendiri, ya kan?

    Habis nonton, saya posting di IG story itu sobekan tiketnya. AND BOOM!!! Mendadak DM instagram saya kedip-kedip banyak yang nanya dan komen. Macam-macamlah komentarnya. Ada yang protes karena saya gak ajak-ajak, ada yang komen niat amat sampai nonton sendiri, tapi kebanyakan nanya “Gimana? Bagus nggak filmnya?”

    A Man Called Ahok adalah sebuah film keluarga yang manis tapi greget. Cerinta berpusat pada hubungan Ahok sejak kecil hingga dewasa dengan Papanya, seorang tauke (boss) tambang timah bernama Tjung Kim Nam yang jujur, keras kepala dan hobinya bagi-bagi uang buat menolong warga miskin yang kesusahan.

    Sebagai anak sulung, Ahok sejak kecil sering diajak papanya mengurusi bisnis. Dan kalau ada dua orang yang saling mencintai, pasti mereka juga saling melukai. The person who love you most, will be the person who hurt you most. Ciyeee…

    Tapi beneran, film ini menggarap dengan tajam konflik antara Ahok dan Papanya dengan sang Mama berada di titik (hampir) netral. Jadinya sang Mama mesti gulung lengan baju menjadi pemadam kebakaran di antara dua pria keras kepala yang sama-sama dicintainya itu.

    Konfliknya kenapa sih? Papanya kan sayang sama anaknya, masa berantem? Yaelah sis… kamu sayang mamamu kan? Sayang papamu kan? Tapi masih berantem juga kadang-kadang kan? Nah, saya gak mau ceritain lengkap konfliknya apa, sebab ntar bisa spoiler. Yang jelas, ceritanya solid dan mengalir lancar, pas adegan-adegan gembiranya bisa menghibur, dan pas adegan-adegan harunya bisa bikin tertusuk hatiku!

    Daerah Gantong di Belitung juga digambarkan dengan otentik, dan tidak untuk kepentingan pariwisata semata. Di sini Belitung tidak hanya tampil cantik dengan pantai-pantainya yang berbatu raksasa itu, tapi malah lebih banyak setting di tambang timah, sisi yang sebenarnya penuh cerita haru tempat para pekerja tambang memeras keringat.

    Film A Man Called Ahok secara visual indah sekali. Sinematografinya bagus, dan detail props-nya digarap dengan serius sehingga kita dapat gambaran kehidupan keluarga Ahok sejak kurun 1970-an hingga zaman modern pas Ahok udah jadi Bupati Belitong Timur. Saya suka detail rumahnya Ahok. Bahkan beberapa furniture di ruang tamunya pun berubah seiring dengan waktu. Disesuaikan sama ceritanya pas periode 70-an, 80an atau 90an.

    Denny Sumargo sebagai Papa-nya Ahok waktu masih muda, aktingnya bagus. Juaranya sih jelas Kin Wah Chew, yang berperan jadi papa-nya Ahok waktu sudah tua. Gila men… Ini aktor yang menghidupkan setiap scene dimana dia muncul. I adore his performance. Film ini memang didukung banyak aktor bagus. Ada Yayu Unru, Sita Nursanti, Ferry Salim, Dewi Irawan, Ria Irawan, Aida Nurmala dan yang juga tampil memukau: Donny Damara!

    Donny Damara sukses jadi tokoh antagonis yang nyebelin. Rasanya saya pengin cabut itu kumisnya saking keselnya sama dia! Sementara Aida Nurmala mencuri perhatian banget meski perannya kecil. Sejak Aida muncul pertama, sampai adegan di pasar, saya membatin, “Ini siapa sih tukang dagingnya, lusuh, keringetan, tapi cakep juga…”

    Satu hal yang masih kurang dikit buat saya, adalah pilihan timeline kehidupan Ahok yang diambil untuk difilmkan. Saya penginnya masa Ahok jadi Bupati Belitong Timur diceritain lebih banyak biar lebih gas-pol gitu… biar lebih keliatan dobrakan dan perubahan apa aja yang dia buat di masa itu. Kan seru kalau satbang-satbang kayak tokoh yang diperankan Donny Damara itu disikat habis! Hehehehe…

    A Man Called Ahok adalah film keluarga yang mudah sekali relate dengan kita-kita, siapa saja yang punya Papa. Cerita cinta (dan konflik) antara ayah dan anak yang dikemas apik, rapi dan didukung aktor-aktor yang bermain bagus, rasaya sayang banget kalau dilewatkan. So, silakan nonton selagi masih tayang di bioskop! Dari pada nanti nyesel, atau ribet nungguin muncul di TV. Masih lama… dan gak enak nonton A Man Called Ahok di TV soalnya disela iklan.

    Selamat menonton!

    Gambar-gambar yang lengkap ada di naskah aslinya Lifetimejourneyme


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".