Ayo Traveling ke Togean

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua kakak beradik suku bajo berjalan pulang dari sekolahnya melintasi jembatan penghubung antar pulau di Pulau Papan, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Agustus 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    Dua kakak beradik suku bajo berjalan pulang dari sekolahnya melintasi jembatan penghubung antar pulau di Pulau Papan, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Agustus 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah pernah ke Kepulauan Togean? Ada tiga hal yang sering terucap dari impresi teman-teman tentang taman nasional yang terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah tersebut. Tiga hal menarik tentang Togean, yaitu alamnya cantik,  (namun) aksesnya susah, (juga) sinyalnya jelek.

    Benarkah demikian? Jawabannya, ya dan tidak.

    Perkara alamnya cantik, tentu saja benar. Taman Nasional Kepulauan Togean yang memiliki luas daratan sekitar 755,4 kilo meter persegi dan terdiri dari kurang lebih 66 pulau besar dan kecil yang masuk ke dalam zona transisi garis Wallace dan Weber ini dikenal kaya akan terumbu karang dengan berbagai biota laut yang langka dan dilindungi. Selain itu, akibat pembentukan yang disebabkan aktivitas vulkanis, banyak pulau di daerah Togean yang ditutupi oleh vegetasi subur dan rimbun, serta dikelilingi oleh formasi bukit karang. Batu karang dan pantai yang ada di sana inilah yang kemudian menyediakan tempat bagi beberapa binatang laut untuk tinggal dan berkembang biak, seperti misalnya kura-kura hijau yang tidak di dalam perahu.

    Lalu bagaimana dengan akses transportasi dan kendala komunikasi yang saya sebutkan di atas? Perkara transportasi, nanti akan saya kemukakan di bawah, namun untuk komunikasi seluler antar pulau yang susah, hal tersebut benar adanya. Karena sampai saat ini, jaringan telepon belum bisa menjangkau semua pulau di Togean –paling hanya Pulau Wakai yang memiliki jaringan bagus dan sinyal internet karena dibangunnya BTS di sana, sementara sisanya masih mengkhawatirkan.

    Ada pulau-pulau yang sama sekali tidak mendapat sinyal, dan ada pulau-pulau yang beruntung memiliki bukit cukup tinggi, sehingga penduduknya dapat memanjat bukit tertinggi hanya untuk mencari sinyal telepon. Seperti Arjuna mencari cinta.

    Kalau sudah siap, saya akan mulai bahasan tentang aspek utama untuk tamasya ke Togean, yang meliputi transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Baru setelah itu kita berlanjut ke hal-hal yang bisa dilakukan di Togean, selain mempertanyakan kenapa namanya Togean, bukan Tocilan, tentunya.

    Transportasi Menuju Togean

    Beberapa kawan yang pernah mengunjungi Togean, sempat mengeluhkan susahnya akses transportasi ke sana. Seorang kawan mengemukakan bahwa untuk menuju Togean, dia harus mengambil penerbangan ke Gorontalo yang terletak di sebelah utara sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal feri Tuna Tomini ke Wakai, Togean. Itupun juga tidak bisa dilakukan setiap hari, karena kapal ini hanya berangkat pada hari Selasa dan Jumat sekitar pukul 18.00 WITA dengan waktu tempuh lebih kurang 12 jam.

    (((12 JAM))) sudah seperti terbang ke Eropa, gaes.

    Ada juga metode lain untuk mencapai Togean via Gorontalo, yaitu melalui Bumbulan Paguat di Kabupaten Pohuwato yang dapat ditempuh melalui jalan darat selama 3 jam dari Kota Gorontalo. Setelahnya, kamu dapat meneruskan perjalanan ke Togean dengan menggunakan kapal Cengkeh Afo yang berangkat setiap hari Senin dan Kamis pukul 08.00 WITA. Waktu tempuhnya sih lebih singkat, cuma sekitar 6 jam perjalanan.

    (((Senin dan Kamis))) sudah kayak puasa saja ini jadwal kapalnya.

    Kawan yang lain juga sempat curhat, kalau dahulu dia mengunjungi Togean melalui Luwuk, yang terletak di tenggara Togean, namun dari sana dia harus melanjutkan perjalanannya melalui jalur darat selama 10 jam menuju Ampana, kota pelabuhan terdekat dari Togean. Cara yang sama, dapat dilakukan juga melalui Palu, dengan menggunakan bus atau travel ke Ampana via Poso (375 Km) yang akan menempuh perjalanan darat sekitar 10 jam, sebelum kemudian menyeberang ke Togean.

    ADVERTISEMENT

    Tapi itu dulu.

    Sekarang Lebih Mudah Berkat Bandara Tanjung Api Ampana

    Ide awal pembangunan bandara ini dicetuskan saat bupati terpilih kala itu, Damsik Ladjalani memiliki penerawangan, yang bukan bersumber dari mimpinya, bahwa akses perhubungan akan semakin mudah dengan adanya bandara di wilayah Ampana, Tojo Una-Una. Beliau berpikir bahwa jarak Ampana ke ibu kota Sulawesi Tengah, Kota Palu, terbilang jauh karena seseorang harus menempuh perjalanan darat sekitar sepuluh jam untuk mencapai Ampana dari Kota Palu.

    Berawal dari ide tersebut, Beliau kemudian menjanjikan pembangunan bandara di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una, yang alhamdulillah, berhasil diwujudkan, bukan sekadar janji kampanye semata. Pengalokasian dana dimulai pada tahun 2006 dengan nilai 84 Miliar Rupiah melalui APBD Tojo Una-Una periode 2006-2014. Setelah melalui riset dan beberapa kali pengkajian ulang, ditetapkanlah lokasi calon bandara ini, yaitu di Desa Pusungi, Kecamatan Ampana Tete.

    Pada 2014, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meresmikan 20 pelabuhan dan 10 bandara untuk lebih membuka konektivitas antar-pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, di mana salah satu dari 10 bandara yang diresmikan adalah Bandara Tanjung Api di Ampana, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah yang kemudian mulai beroperasi pada tahun 2016. Bandara ini kini memiiki runway dengan ukuran panjang 2110 meter x 30 meter yang mampu didarati pesawat berbadan lebar (maaf, bukan bermaksud body shaming) sejenis Boeing 737-500.

    Saat ini, Bandara Tanjung Api Ampana melayani penerbangan harian dari dan ke Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu, dengan menggunakan maskapai Wings Air (iya, tidak ada pilihan lain sampai saat ini) dengan jadwal berangkat pukul 09.20 dari Palu, dan kembali dari Ampana pukul 10.35. Penerbangannya sendiri hanya memakan waktu sekitar 45 menit, bandingkan sebelum adanya bandara ini, di mana diperlukan waktu berjam-jam untuk berangkat dari Palu ke Ampana, itu kalau tidak nyasar.

    Kalau Mau Cepat Sampai Togean, Bisa Sewa Speed Boat

    Dari Ampana, ada beberapa cara untuk mencapai Kepulauan Togean yang terletak di utara. Kamu dapat berenang apabila mampu, menggunakan beberapa macam kapal seperti kebanyakan pengunjung lainnya, ataupun menggunakan helikopter seperti para pejabat yang mengunjungi Togean.

    Sebagai pengunjung normal, ada pilihan untuk menggunakan kapal rakyat, yaitu Kapal Puspita Sari atau Lumbalumba menuju Wakai, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam perjalanan yang beroperasi setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu sekitar pukul 10.00 WITA. Atau bisa juga menggunakan kapal feri Tuna Tomini yang berangkat dari Ampana setiap hari Senin, Kamis, dan Minggu pada jam yang sama dengan kedua kapal sebelumnya. Biaya penyeberangan untuk kedua kapal ini adalah sekitar Rp.65.000,- sekali jalan.

    Apabila mau lebih cepat tiba di Togean, kamu dapat menggunakan speed boat Hercules yang memiliki kapasitas maksimal hingga 40 orang, dengan biaya Rp130.000,- per orang sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 1-2 jam untuk sampai di Wakai. Namun yang perlu diingat adalah, kapal cepat ini cuma berangkat sekali sehari pada pukul 09.00 WITA dan sangat sering penuh, sehingga dibutuhkan pemesanan sebelumnya. Tidak, pemesanan tidak bisa dilakukan melalui M-Tix.

    Lalu bagaimanakah solusinya apabila ingin cepat sampai di Togean, tidak ingin berkeringat akibat berdesakan di kapal rakyat, namun tidak kebagian tiket kapal cepat? Mungkin sewa speed boat adalah jawabannya.

    Untuk sewa speed boat, biaya kerusakan yang harus kamu tanggung meliputi biaya bahan bakar dan biaya jasa boat driver (termasuk dengan sewa harian kapal). Sebagai perkiraan, bahan bakar yang diperlukan untuk perjalanan pulang pergi dari Ampana ke Togean adalah sekitar 10-11 drum dengan harga bahan bakar per drum sekitar Rp270.000,- kemudian untuk biaya jasa boat driver termasuk dengan sewa harian, adalah berkisar di angka Rp600.000,-.

    Mahal? Ya relatif, kalau kata Princess Syahrini sih terlalu murah. Speed boat charteran ini dapat diisi hingga 10 orang dengan barang bawaan minimalis. Cocok apabila kamu ingin bepergian bersama satu tim sepakbola, dengan meninggalkan seorang penjaga gawang untuk bertahan di Ampana.

    Akomodasi di Taman Nasional Kepulauan Togean

    Untuk akomodasi, di Taman Nasional Kepulauan Togean terdapat berbagai macam penginapan yang tersebar pada pulau-pulau besar di sana. Mulai dari homestay sederhana, bungalow kelas menengah ngehe, hingga resort mewah ada di sana. Homestay paling banyak terdapat di Pulau Wakai, yang merupakan pulau terbesar di sana, sementara untuk penginapan lain yang lebih privat dan memungkinkanmu untuk bebas berjemur tanpa gangguan paparazzi, biasa ditemukan di pulau-pulau lain.

    Penginapan-penginapan paling terkenal di Togean, diantaranya adalah Kadidiri Paradise Resort dan Black Marlin yang terletak di Pulau Kadidiri, Fadhila Cottages di Pulau Pangempang, atau penginapan yang saya tempati ketika berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, yaitu Bolilanga Resort yang terletak di pulau … *drum roll* … Bolilanga.

    Sekadar informasi, karena belum adanya listrik yang mengaliri pulau sepanjang hari, maka penerangan dan kelistrikan di pulau ini sangat bergantung kepada genset yang hanya menyala selama beberapa jam dari sore ke malam. Selain itu, di pulau ini juga tidak terdapat sambungan telekomunikasi, baik telepon maupun internet. Oleh karenanya ada beberapa hal-hal yang tidak dapat kamu lakukan di pulau ini yaitu:

    • Online di Social Media, karena tidak ada jaringan telepon. Boro-boro EDGE, yang G(eser) S(edikit) M(ati) saja tidak ada.
    • Menonton siaran langsung Liga Inggris, karena tidak ada televisi dan antena parabola.
    • Memakai AC dan hair dryer, karena akan mengakibatkan listrik dari gensetnya anjlok.
    • Mendirikan BTS dan membangun jaringan kelistrikan PLN, ya karena pemerintah saja belum bisa, masa kamu bisa? Kamu tidak akan kuat, Dilan.

    Lalu, berapakah harga penginapan di Bolilanga Resort? Untuk low season di bulan-bulan selain masa liburan musim panas dan musim dingin (Ya, Togean sangat terkenal di kalangan turis asing, dan Bolilanga Resort sendiri cukup dikenal oleh turis-turis Perancis akibat adanya vlogger yang mengunggah video jalan-jalannya di Togean), tarifnya mulai di angka Rp300 ribuan untuk satu orang pada penginapan di pinggir pantai, sudah termasuk makan 3x sehari serta gratis teh dan kopi –sachet, bukan Starbucks.

    Jadi bagaimana, masih mikir panjang buat traveling ke Togean?

     

    Selengkapnya ada di Backpackstory.me


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.