Anak Muda di Pengujung Gerbong Kereta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak-anak melihat dari luar jendela gerbong kereta sleeper saat perjalanan dari Harare menuju Bulawayo di Zimbabwe, 6 Agustus 2018. REUTERS/Siphiwe Sibeko

    Sejumlah anak-anak melihat dari luar jendela gerbong kereta sleeper saat perjalanan dari Harare menuju Bulawayo di Zimbabwe, 6 Agustus 2018. REUTERS/Siphiwe Sibeko

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak muda itu memanfaatkan celah di antara orang-orang yang sibuk dengan diri sendiri. Bergerak pelan menuju seorang ibu paruh baya. Tampaknya ia berkata biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

    Ini pemandangan yang sejuk.

    Malam itu, kali ke-22 aku naik kereta, dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Bekasi. Aku menyempil di sudut gerbong tiga. Bersender di dinding sambungan gerbong tiga dan empat.

    Dari sanalah aku menyaksikan seorang anak muda. Berdiri di dekat salah satu pintu gerbong. Pintu ujung gerbong tiga. Tak begitu jauh dari tempat aku berdiri. Tangan kanannya memegang gantungan yang memang disediakan untuk orang yang berdiri.

    ADVERTISEMENT

    Perawakannya setinggi rata-rata orang Indonesia. Badan proporsional. Kutaksir usianya 27 tahun. Ia mengenakan jaket hitam. Tas diransel ke depan.

    Pakaiannya rapi. Semiformal. Kemeja biru muda polos. Dan celana jeans. Aku tidak bisa melihat alas kakinya. Jarak kami dipenuhi orang. Tapi kutebak sepatu jenis boots. Saat dia mengangkat tas si Ibu untuk ditaruh ke bagasi, tampak dia mengenakan jam tangan. Model Alexander Christie tali kulit.

    Awalnya semua penumpang kereta sudah sibuk dengan diri masing-masing ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Manggarai. Aku sendiri sudah dalam posisi nyaman.

    Lalu kereta berhenti di Stasiun Klender. Stasiun kelas III/kecil pemberhentian kedua setelah Stasiun Jatinegara. Ada penumpang yang turun. Ada penumpang yang naik.

    Seorang Ibu paruh baya naik. Dia berdiri di depan pintu. Ia membawa dua tas jinjing dengan ukuran berbeda. Yang kecil dijinjing dan yang sedang ditaruh di lantai.

    Kereta mulai bergerak melanjutkan perjalanan, si Ibu mengatur posisinya. Orang-orang kembali sibuk dengan diri masing-masing.

    Setelah merasa posisinya nyaman, si Ibu tampak menunduk. Ia mengambil tas yang tadi ditaruh di lantai. Ingin ditaruh di bagasi. Karena tas atau barang apa pun tak boleh ditaruh di lantai. Akan mengganggu orang yang berdiri.

    Tapi tas itu tampaknya berat. Dan dengan begitu ramainya orang, ia kesulitan mengangkatnya.

    Seorang anak muda kemudian bergerak. Memanfaatkan celah di antara orang-orang yang berdiri. Ia dekati si Ibu, seperti mengungkapkan biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

    Si Ibu tampak semringah. Dari gerak bibirnya, ia mengucap terima kasih. Dari raut mukanya, tampak ketulusan.

    Di gerbong kereta yang begitu sesak, kutemukan kesejukan tak terkira.

    Tulisan ini sudah tayang di Martinrambe 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji

    Yuk! Mulai Menabung untuk Menunaikan Ibadah Haji